BANNER ADS

BANNER ADS
Pasang banner kamu disini hanya 25rb/bulan

BANNER ADS

BANNER ADS
Pasang banner kamu disini hanya 25rb/bulan

BANNER ADS

BANNER ADS
Pasang banner kamu disini hanya 25rb/bulan

BANNER ADS

BANNER ADS
Pasang banner kamu disini hanya 25rb/bulan

KATEGORI

Tampilkan postingan dengan label CERITA 17TH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERITA 17TH. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Juni 2010

CERITA 6

Pada suatu pagi, aku sedang sendirian di rumah. Ayah, Ibu dan adik-adikku sedang ada acara masing-masing. Aku yang memang sedang tidak ada acara, bertugas untuk menjaga rumah. Daripada tidak ada kerjaan dan melamun sendirian, aku berniat untuk membersihkan rumah saja.

“Mengisi waktu luang sekaligus menyenangkan hati ibu…” pikirku waktu itu.

Ketika aku sedang membersihkan kamarku (waktu itu aku masih tidur berdua dengan Dewi, adikku yang bungsu), aku menemukan foto Dewi dengan mantan pacarnya ketika SMU yang bernama Herland. Keluargaku dan Herland sudah cukup dekat, bahkan dia sudah aku anggap sebagai adik kandungku sendiri. Tapi sejak Dewi putus darinya dan sudah memiliki pacar baru, Herland mulai jarang main ke rumah.

Tiba-tiba aku merasa kangen dengan Herland karena sudah jarang bertemu. Aku sempat berpikir kenapa tidak aku undang saja dia main ke rumah. Kemudian aku mengirim SMS ke nomer Herland yang masih aku simpan di Handphone-ku. Aku sengaja tidak memberitahukan kalau keluargaku sedang tidak ada di rumah semuanya, termasuk Dewi. Takut saja kalau Herland nanti merasa segan untuk main ke rumah. Aku sebenarnya berencana mau menjodohkan lagi Dewi dengan Herland agar dapat berpacaran kembali. Siapa tau dengan mengundang Herland ke rumah semuanya akan sesuai dengan rencana.

Setelah mengirimkan SMS, aku melanjutkan membersihkan kamarku yang sempat terhenti, sambil menunggu balasan dari Herland. Sesekali aku melihat Handphone-ku apakah sudah ada balasan darinya atau belum. Namun cukup lama menunggu, aku belum juga mendapatkan balasan darinya. Sampai akhirnya aku lupa sendiri dan larut dalam pekerjaanku.

Saat sedang membereskan lemari baju di kamar Amar, adik laki-lakiku, aku menemukan sekeping DVD tanpa cover. Karena penasaran aku mencoba menyetel DVD tersebut di ruang tengah. Aku terkejut, karena di layar TV sekarang terpampang pria dan wanita yang sedang saling mencumbu. Pertama mereka saling berciuman, kemudian satu persatu pakaian yang melekat mereka lepas. Si pria mulai menciumi leher sang wanita, kemudian turun ke arah payudaranya. Si wanita tampak menggeliat menahan nafsu yang membara.

Badanku gemetar dan jantungku berdegup kencang menyaksikan adegan-adegan panas te rsebut. Namun, aku yang tadinya berniat menghentikan film tersebut dan mengembalikan ke tempatnya, memutuskan untuk melanjutkan saja. Di tengah-tengah film, pikiranku menerawang mengingat saat terakhir aku dan teman-teman kampus Dewi menonton DVD seperti itu yang dilanjutkan bersetubuh dengan mereka.

Birahiku tiba-tiba saja semakin tinggi. Aku memang sudah seminggu ini tidak melakukan seks dengan adik laki-lakiku, padahal hal tersebut sudah menjadi ‘ritual’ bagi aku dan dia, sehingga selama menonton, tanpa sadar aku mulai melakukan masturbasi. Pakaianku sekarang sudah tidak karuan, kaos berwarna hitam yang aku pakai, sudah terangkat sampai di atas payudara. Kemudian Bra-ku sudah dalam keadaan terlepas. Kuelus-elus sendiri payudaraku sambil sesekali kuremas. Sungguh enak sekali rasanya, apalagi kalau sampai terkena putingnya.

Celana pendekku sudah aku turunkan sampai sebatas mata kaki, lalu tanganku aku masukan ke balik celana dalam dan langsung menggosok-gosok klitorisku. Sensasinya sungguh luar biasa! Semakin lama aku semakin gencar melakukan masturbasi, rintihanku semakin keras. Tangan kananku semakin cepat menggosok klitorisku, sementara yang satunya sibuk meremas-remas payudara.

“Oohh… Ooohh… Aaahh…” desahku yang sudah merasa hampir mencapai orgasme.

Tiba-tiba, pintu depan diketok. Tentu saja aku gelagapan memakai pakaianku yang terbuka sana-sini. Setelah itu aku mematikan DVD player tanpa sempat mengeluarkan Disc-nya.

“Aduh gawat…!!” pikirku panik.

“Tok… Tok…” terdengar lagi suara ketokan pada pintu depan.

“Siapa ya? Apa jangan-jangan Ayah dan Ibu? Tapi kan baru sebentar…” aku mulai kuatir.

Dengan terburu-buru aku membukakan pintu. Ternyata di depan pintu berdiri sosok yang sudah aku kenal, yaitu Herland mantan pacar adikku.

“Halo Teteh! Tadi SMS Herland ya? Maaf ya udah lama gak main nih…” katanya dengan ceria.

“Kirain Herland gak bisa datang? Kok nggak jawab SMS Teteh dulu sih?” tanyaku.

“Emang sengaja kok Teh. Kan Herland mau ngasih kejutan sama keluarga mantan pacar nih…” jawabnya sambil tersenyum.

“Oh gitu? Teteh kirain Herland udah nggak mau lagi main ke rumah…” candaku sambil mempersilakannya duduk di ruang tamu.

Herland hanya tersenyum mendengar candaku, mungkin dia juga sudah sangat kangen dengan sikap akrab yang diberikan oleh keluargaku.

“Kok sepi banget sih Teh? Yang lain lagi gak ada di rumah ya?” tanyanya bingung melihat suasana rumahku yang lengang tidak seperti biasanya.

“Sedang ada acara masing-masing tuh. Dewi juga lagi pergi sama temannya, jadi di rumah cuma ada Teteh doang. Maaf ya Land, Teteh gak kasih tau Herland sebelumnya. Abisnya Teteh juga udah lama gak ngobrol sama Herland sih…” aku mencoba menerangkan dan berharap Herland dapat maklum.

Terus terang saja, aku sudah sangat kangen dengan Herland. Ternyata Herland pun mau mengerti maksudku. Apalagi dia juga sudah menganggap keluargaku seperti keluarga sendiri, dia saja memanggil aku dengan ‘Teteh’ berbeda dengan kebanyakan teman-teman Dewi yang memanggilku dengan ‘Kakak’. Maklum saja keluarga Herland termasuk Broken Home, tapi tidak berarti dia nakal seperti layaknya anak yang tumbuh tanpa pengawasan orangtua.

Karena sudah lama aku tidak mengobrol dengan Herland, kami berbicara banyak mengenai berbagai hal. Aku juga sempat memperhatikan di usianya yang sudah menginjak 18 tahun, ia mulai tumbuh sebagai seorang pria dewasa. Walaupun secara fisik wajahnya yang menurutku cukup manis belum banyak berubah, tinggi badannya juga masih tidak berbeda denganku, hanya sekitar 160 cm. Tapi sikap dan pikirannya yang sekarang sudah jauh lebih dewasa.

Setelah cukup lama mengobrol, aku baru sadar kalau tubuhku dalam keadaan kotor setelah berberes rumah. Aku kemudian pamit dengan Herland untuk mandi. Setelah aku selesai mandi dan berpakaian, aku mengajaknya untuk makan siang bersama. Di saat makan, aku merasa Herland terus memperhatikan tubuhku yang saat itu memakai kaos putih ketat dan hotpants warna kulit.

“Huh, dasar cowok! Dimana-mana sama aja…!” omelku dalam hati.

Namun aku bisa memaklumi dia, karena pasti tubuh mungilku saat itu terlihat sangat sexy dan menggiurkan.

“Ada apa Land? Kok Herland ngelamun sih? Pasti lagi mikirin Dewi ya?” aku berpura-pura menanyakan hal lain untuk menyadarkan lamunannya.

“Eh, ng-gak kok Teh. Lagipula Dewi kan sekarang udah punya pacar baru…” ujar Herland sekenanya karena sedikit panik.

“Herland jangan pulang buru-buru yah. Tadi Teteh udah kasih tau ke Dewi kalau Herland lagi ada di rumah…” kataku berbohong supaya Herland dapat lebih lama lagi di sini.

“Iya deh. Herland juga mau di sini dulu sampe semuanya pulang…” jawabnya.

“Ya udah, Herland nonton TV dulu aja. Teteh mau masuk ke kamar dulu. Mau istirahat sebentar…” lanjutku.

“Ya udah Teh, nggak apa-apa kok. Teteh istirahat aja dulu…” kata Herland.

Setelah pamit ke Herland, aku beranjak masuk ke kamar tidur. Setelah menutup pintu kamar, aku bercermin. Wajahku terbilang manis, kulit kuningku juga bersih dan mulus karena sering luluran. Walaupun badanku mungil, tapi terbilang proporsional. Kemudian aku melepas bajuku dan mencopot Bra-ku, karena aku memang sudah terbiasa tidur tanpa menggunakan Bra. Aku sempat memperhatikan payudara milikku yang berukuran kecil namun kencang, dan tentu saja semakin membuat tubuhku tampak indah, karena sesuai dengan postur mungilku.

Ketika melihat ke arah bawah, aku tersenyum sendiri karena hotpants-ku memang membuat aku tampak sexy. Pantas saja Herland sampai memperhatikan tubuhku seperti itu. Aku yang dalam keadaan cukup lelah, merebahkan diriku sebentar di atas kasur tanpa memakai kaos dan mencoba beristirahat sejenak. Belum lama beristirahat, aku mendengar suara rintihan dari ruang tengah yang tepat berada di depan kamarku. Astaga! Aku baru ingat, itu pasti suara dari DVD porno yang lupa aku keluarkan tadi. Apa Herland sedang menyetelnya? Karena penasaran, aku pun bangkit dari tempat tidurku, dengan terburu-buru aku memakai kaos tanpa sempat memakai Bra terlebih dahulu, kemudian dengan perlahan-lahan aku keluar dari kamarku.

Begitu aku membuka pintu kamar, aku melihat pemandangan yang mendebarkan. Herland sedang berada di karpet depan TV sambil mengeluarkan penisnya dan mengocok-ngocoknya sendiri. Ternyata penisnya cukup besar juga untuk anak seusia dia, kurang lebih sekitar 14 cm dan sudah tampak tegang sekali.

Aku berpura-pura batuk, kemudian dengan tampang seolah-olah mengantuk aku mendekati Herland dan ikut duduk disampingnya. Dia tampak kaget menyadari aku sudah berada di sampingnya. Lalu dengan terburu-buru dia memasukkan penisnya ke dalam celananya lagi.

“Eh, kok Te…teh ga-ak jadi istira…hat…?” kata Herland salah tingkah.

Kemudian dengan wajah panik dia mengambil remote DVD dan hendak mematikan filmnya.

“Iya nih Land, gerah banget di dalam. Eh, filmnya nggak usah dimatiin. Kita nonton berdua aja yuk! Kayaknya seru tuh…” ujarku sambil menggeliat sehingga menonjolkan payudaraku yang hanya terbungkus oleh kaos putih ketatku saja.

“Hah? Teteh mau i-ikut nonton…? Jangan Teh, Herland malu…” katanya gugup.

“Kok Herland masih malu? Kayak sama siapa saja. Herland kan sudah seperti keluarga sendiri, masa masih malu sama Teteh?” kataku meyakinkannya.

“I-iya deh…” jawab Herland dan tidak jadi mematikan DVD-nya.

Dengan santai aku duduk di samping Herland dan ikut menonton. Aku mengambil posisi bersila sehingga hotpants-ku semakin tertarik dan memperlihatkan paha mulusku. Adegan-adegan erotis yang diperlihatkan bintang porno itu memang sungguh menakjubkan, mereka bergumul dengan buas dan saling menghisap. Aku melirik ke arah Herland yang sejak tadi bergantian antara memandangi adegan panas tersebut dan terkadang juga melirik ke arah paha dan payudaraku. Terlihat ia berkali-kali menelan ludahnya. Nafasku juga mulai memburu karena terangsang melihat film tersebut.

“Land, kamu pernah ngapain aja sih waktu pacaran sama Dewi?” tanyaku tiba-tiba.

“Ehmm… Paling ciuman aja sih Teh. Lagipula Herland juga tau kok Teteh pernah ngeliat Herland ciuman sama Dewi di ruang tamu…” jawab Herland terus terang.

“Oh gitu yah? Iya sih Teteh pernah liat. Terus, Herland udah pernah ngelakuin kayak adegan Film ini belum?” aku terus berusaha memancing Herland.

“Eh, Teteh kok nanya kayak gitu sih?” jawab Herland bingung.

Wajah Herland terlihat kaget mendengar pertanyaanku, soalnya saat itu matanya asyik mencuri pandang ke arah puting payudaraku yang tercetak pada kaos putihku. Aku semakin memanaskan aksiku, sengaja kakiku kubuka lebih lebar sehingga sekarang cetakan vagina pada Hotpants-ku terlihat jelas.

“Gak usah malu Land. Teteh bisa jaga rahasia kok…” tanyaku semakin penasaran.

“Belum kok Teh…! Beneran deh!” jawab Herland tersipu.

“Tapi pasti kamu udah sering nonton Film kayak gini kan?” lanjutku.

“Lumayan sering sih Teh. Tapi paling Herland nontonnya rame-rame sama temen…” jawab Herland polos.

“Land, menurut kamu Teteh tuh cantik gak sih?” lanjutku terus menggoda Herland.

“I-iya Teh! Sebenernya dari dulu Herland udah merhatiin kalo Teteh tuh cantik…” timpal Herland.

Merasa terus dipancing seperti itu Herland mulai memberanikan diri untuk memegang tanganku. Aku sedikit kaget, namun membiarkan tanganku dibelai oleh telapak tangannya. Terasa benar bahwa telapak tangan Herland basah oleh keringat karena gugup. Karena aku biarkan, dia terus membelai-belai bagian tangan seraya perlahan-lahan mulai naik untuk mengusap pergelangan tanganku. Aku pasrah saja ketika Herland memberanikan diri melingkarkan tangannya pada bahuku. Namun tampaknya ia belum berani untuk menatap mataku. Sambil terus memeluk bahuku, tangan kanannya mulai berani memegang-megang payudaraku.

“Enak ya Teh diginiin?” tanya Herland disela permainan tangannya.

“Emph… Emph…” aku hanya merintih menikmati remasan Herland pada payudaraku.

Sambil memegang payudaraku, dengan ganas Herland mulai menciumi bibir dan leherku. Akupun dengan tak kalah ganasnya membalas ciumannya. Keganasan kami berdua membuat suasana ruangan ini yang tadinya hening, menjadi riuh oleh suara-suara kecupan dan rintihan-rintihan erotis. Setelah beberapa menit kami berciuman, aku yang sudah terangsang berat berniat untuk melanjutkan ke bagian yang lebih jauh lagi.

“Land… Sebentar ya. Teteh buka kaos dulu…” kataku menghentikan pegangannya.

Herland hanya mengangguk mendengar kata-kataku. Tentu saja dia pasti sudah tidak sabar untuk melihat payudaraku yang tanpa terbungkus apa-apa lagi.

“Land, payudara Teteh bagus gak?” ketika aku sudah mencopot kaos ketatku sehingga payudaraku sudah terpampang jelas di hadapannya.

“Ba-bagus Teh…!” jawabnya dengan terbata-bata.

Herland tampak melotot menyaksikan bagian atas tubuhku yang menggoda. Hal itu malah membuat aku semakin terangsang dan melanjutkan perbuatanku. Merasa terus dipancing seperti itu, Herland tampaknya tidak tahan lagi. Ia langsung melumat bibirku sambil meraba-raba payudaraku yang sudah tidak tertutup apa-apa lagi. Aku memejamkan mata meresapinya, Herland semakin ganas menciumiku ditambah lagi tangannya berusaha memainkan vaginaku dari luar. Sembari melumat, lidahnya mencari-cari dan berusaha masuk ke dalam mulutku, dan ketika berhasil lidahnya bergerak bebas menjilati lidahku sehingga lidahku pun ikut bermain.

Kami berdua terlibat percumbuan panas selama beberapa saat, lidah kami saling belit dan jilat, ludah saling bertukar. Mulut Herland mulai menciumi daerah pundak dan leherku, rambutku dinaikkan ke atas oleh Herland sehingga memudahkannya untuk mencupangi leherku. Aku mengerang sejadi-jadinya, kadang eranganku tersendat saat diselingi ciuman.

Sambil memejamkan mata aku mencoba untuk mengikuti arus permainan. Dengan kuluman lidah Herland yang agresif, ditambah remasan-remasan telapak tangannya pada kedua payudaraku, birahiku pun dengan cepat naik. Saat ini aku hanya bisa pasrah saja tubuhku dipegang dan digerayangi oleh Herland. Tubuh bugilku menjadi objek bulan-bulanan mulut serta kedua tangannya.

“Aaaaahh… Herlaaaaaaand… Aaaahhhhhhh…” aku mendesah panjang merasakan nikmat yang melanda diriku.

Sementara di bawah sana kurasakan tangan Herland sedang merabai pahaku yang mulus.

“Paha Teteh mulus banget! Bikin Herland tambah nafsu aja…” sahut Herland sambil tangannya merayap naik lagi ke selangkanganku.

Ketika Herland sedang asyik-asyiknya menikmati rabaannya pada selangkanganku aku berkata “Land, berhenti dulu dong…”

“Kenapa Teh? Sakit yah…?” tanya Herland dengan wajah penasaran.

“Gak kenapa-kenapa kok. Teteh kan juga pengen liat Herland telanjang…” pintaku kepada Herland tanpa ada perasaan malu lagi.

Herland terlihat salah tingkah mendengar permintaanku. Karena sudah sangat bernafsu, aku membantu Herland untuk mencopot seluruh pakaiannya hingga dia bugil. Aku semakin terangsang melihat tubuh bugil Herland dari dekat. Badannya walaupun agak kurus tapi cukup berotot. Penisnya sudah mengacung tegak dan membuat jantungku berdebar cepat. Entah kenapa, kalau waktu dulu ngebayangin bentuk penis cowok aja rasanya jijik tapi ternyata sekarang malah membuat darahku berdesir.

“Wah penis kamu udah tegang Land! Panjang banget…!” pujiku.

“Abisnya Teteh bikin Herland nafsu sih!” jawab Herland.

“Te-teteh mau se-sepongin kontol Herland gak?” lanjutnya dengan nada gugup.

“Ternyata Herland nakal yah…” kataku dengan nada menggoda.

Karena sudah sangat terangsang, tanpa basa-basi lagi aku mulai mengocok, menjilat lalu mengulum batang kemaluan Herland dengan semangat. Bau penisnya yang cukup menyengat tidak aku perdulikan lagi karena aku sudah dikuasai oleh hawa nafsu.

“Slurp… Slurp… Slurp… Emmh… Slurp… Slurp… Slurp… Emmmmh…” terdengar suara hisapanku pada penis Herland yang benar-benar terasa nikmat sekali di mulutku.

“Teeeh…! Aaaah… Enaaakk bangeeet…! Akhirnya kesampaian juga Herland ngerasain disepong sama Teteh…” katanya sambil terus menikmati hisapanku pada penisnya.

Mendengar kata-kata Herland, aku semakin bernafsu menghisap penisnya. Terkadang aku juga menjilat buah zakarnya sehingga Herland mulai mendesah lebih keras.

“Hmmmm… Nikmat banget penis kamu Land. Enak gak diisepin Teteh?” kataku memuji kenikmatan penisnya.

“Aaaaahh… Ooohh…. Eeennakk banget Teh! Teteh udah pengalaman yah?” ceracau Herland menikmati hisapanku.

Aku hanya melanjutkan hisapanku tanpa menghiraukan pertanyaan Herland. Setelah beberapa menit merasakan hisapanku pada penisnya, Herland akhirnya tak kuat lagi menahan nafsu. Didorongnya tubuhku hingga terlentang di karpet, lalu diterkamnya aku dengan ciuman-ciuman ganasnya. Tangannya tidak tinggal diam dan ikut bekerja meremas-remas payudaraku.

“Ahh… Mmmh.. Uuuh.. Eenak Land…” desahku keenakan.

Aku benar-benar merasakan sensasi luar biasa. Sesaat kemudian mulutnya menjilati kedua putingku sambil sesekali diisap dengan kuat.

“Uuwh… Nikmaaaat bangeett… Aaah…!” desahanku semakin kencang.

Aku menggelinjang, tapi tanganku justru semakin menekan kepalanya agar lebih kuat lagi mengisap pentilku. Sejurus kemudian lidahnya turun ke arah vaginaku. Tangannya menarik Hotpants dan celana dalamku dan melemparnya ke sofa. Mata Herland seperti mau copot melihat vaginaku yang sudah tidak tertutup apa-apa lagi.

“Vagina Teteh bagus gak bentuknya Land..?” tanyaku kepada Herland.

“Bagus banget Teh! Herland suka banget memek Teteh. Nggak ada bulunya dan masih rapet…” jawabnya.

Sekarang tangannya bergerak menyelinap diantara kedua pangkal pahaku. Lalu dengan lembut Herland membelai permukaan vaginaku. Sementara tangan yang satunya mulai naik ke payudaraku, darahku semakin berdesir ketika telapak tangannya meremas-remas dadaku.

“Sshhhh…” desahku dengan agak gemetar ketika jarinya mulai menekan bagian tengah kemaluanku.

Jari tengah dan telunjuknya menyeruak dan mengorek-ngorek vaginaku, aku meringis ketika merasakan jari-jari itu bergerak semakin cepat mempermainkan nafsuku. Sementara selangkanganku makin basah oleh permainan jarinya, jari-jari itu menusuk makin cepat dan dalam saja. Hingga suatu saat birahiku sudah mulai naik, mengucurlah cairan pra-orgasmeku. Aku mengatupkan pahaku menahan rasa geli sekaligus nikmat di bawahku sehingga tangan Herland terhimpit diantara kedua paha mulusku.

“Eemmhh… Enaaaakk bangeettt…!” aku terus mendesah sehingga semakin membangkitkan nafsu Herland.

Setelah dia cabut tangannya dari kemaluanku, nampak jari-jarinya sudah belepotan oleh cairan bening yang berasal dari vaginaku. Dia jilati cairanku di jarinya itu tanpa rasa jijik, kemudian aku juga ikutan menjilati jarinya merasakan cairan cintaku sendiri. Kemudian dia masukkan lagi tangannya ke vaginaku, kali ini dia juga mengelus-ngelus daerah itu seperti sedang mengelapnya.

Setelah puas memainkan jari-jarinya di vaginaku, kurasakan Herland mulai menjilati kedua pahaku yang mulus dan merangsang, jilatannya perlahan-lahan mulai menjalar menuju ke tengah. Kemudian Herland membuka vaginaku lebar-lebar sehingga klitorisku menonjol keluar, aku hanya dapat bergetar saat kurasakan lidahnya menyusup ke pangkal pahaku lalu menyentuh bibir vaginaku. Bukan hanya bibir vaginaku yang dijilatinya, tapi lidahnya juga masuk ke liang vaginaku, rasanya sungguh nikmat, geli-geli enak seperti mau pipis.

“Aaaaahh Herlaaannnd!! Uuuhh… Eeeenak… Teruuuus… Aaaaaahhh!” jeritku menikmati jilatan Herland.

Herland terus menjilatinya dengan rakus sambil sesekali menggigit kecil klitorisku atau terkadang dihisapnya dengan kuat. Bagian itu dijilatinya dengan ujung lidahnya sehingga aku pun tidak bisa menahan eranganku. Sambil terus menjilat, Herland juga mengelusi bongkahan pantat dan paha mulusku yang mempercepat naiknya libidoku.

“Aaaahhh… Terus Land… Nikmaaaat bangeeeet…” aku mendesah kencang yang membuat Herland semakin bernafsu.

Aku terus mendesah sambil gemetaran. Lidah Herland terus langsung menjilati selangkanganku. Herland menggigit pelan klitorisku dan mulutnya melakukan gerakan mengisap. Sekarang vaginaku sudah terasa mulai becek. Mungkin karena vaginaku mengeluarkan aroma yang enak dan cairan yang manis sehingga membuat Herland sangat menikmatinya.

“Slurp… Slurp… cairan memek Teteh gurih banget… Mmmmmh… Slurrrppp…” katanya disela-sela menjilati vaginaku yang sudah sangat basah.

“Aaaaarghh…!! Teteh suka banget dijilatin sama Herland…! Enaaaak bangeeeet…!” aku terus meracau menikmati jilatan Herland.

Herland terus menjilati vaginaku sampai akhirnya aku nggak tahan lagi. Tidak sampai lima menit, tubuhku mulai mengejang, rasa nikmat itu menjalar dari vagina ke seluruh tubuhku.

“Land… Kayaknya Te-Teteh udah mau keluaar nih…” kataku kepada Herland yang semakin bernafsu saja menjilati vaginaku.

“Aaaaaaaaaahh… Teeteeehhh keluaaar Laannndd….!!” aku menjerit panjang merasakan nikmat yang amat sangat pada seluruh tubuhku.

Aku merasakan cairan kewanitaanku tumpah semua. Tampaknya aku mencapai orgasme yang pertama akibat permainan jari ditambah dengan jilatan-jilatan lidah Herland pada vaginaku.

“Hhhmm… E-enak Teeeh… Sluuuurrpp… Sluuurrpp… Gurih banget rasanya!” ceracau Herland dari bawah sana.

Dengan rakusnya Herland menyeruput cairan bening yang masih hangat itu. Aliran orgasmeku diseruputnya dengan bernafsu. Aku mendesis dan meremas rambutnya sebagai respon atas tindakannya. Vaginaku terus dihisapinya selama kurang lebih 3 menitan. Sensasi itu berlangsung terus sampai kurasakan cairanku tidak keluar lagi, barulah kemudian Herland melepaskan kepalanya dari situ, nampak mulutnya basah oleh cairan cintaku.

“Haaah… Haaah… He-herland jago banget sih bisa bikin keluar Teteeeh…” dengan nafas terengah-engah aku memuji permainan Herland barusan.

“Enak ya Teh diisep memeknya kayak tadi?” tanya Herland.

Pertanyaan Herland kali ini hanya aku jawab dengan anggukan pelan. Tak disangka Herland yang baru pertama kali melakukan ini telah mampu membuat aku orgasme.

“Sekarang giliran Teteh bikin Herland keluar yah…” pintanya tak sabaran karena belum merasa dipuaskan olehku.

“Emangnya Herland mau diapain sama Teteh?” tanyaku yang sebenarnya masih lemas karena baru saja mencapai orgasme.

“Sepongin kontol Herland lagi dong! Abisnya sepongan Teteh bikin Herland ketagihan sih!” jawab Herland.

Lalu Herland mengambil posisi duduk di sofa sambil kembali memamerkan penis miliknya yang sekarang sudah sangat tegang. Aku bersimpuh dihadapannya dengan lututku sebagai tumpuan. Kuraih penis itu, pertama kukocok dengan lembut kemudian semakin cepat dan pelan lagi. Hal itu tentunya semakin memainkan birahi Herland.

“Aaaah… Teteeeeh…! Enaak bangeeet…” Herland mendesah kencang.

Setelah puas mengocok-ngocok penisnya, aku mulai menjilati batangnya dengan pelan. Mungkin karena Herland sudah dikuasai hawa nafsu, dengan setengah memaksa dia mengarahkan batang penisnya ke mulutku yang dan kemudian menjejali penisnya ke mulutku. Aku yang tak punya pilihan lain langsung memasukkan penis itu ke mulutku. Kusambut batangnya dengan kuluman dan jilatanku, aku merasakan aroma khas pada benda itu, lidahku terus menjelajah ke kepala penisnya. Lalu kupakai ujung lidahku untuk menyeruput lubang kencingnya. Hal itu membuat Herland blingsatan sambil meremas-remas rambutku.

“Sluurpp… Sluuuurp… Mmmmmh..” desahku sambil menikmati setiap jengkal penisnya.

“Aaahhh terus Teh… Teteeeeh… Aaahh…” Herland terus mendesah selagi aku menghisap penisnya.

“Enak ya Land…? Hmmmm…?” tanyaku sambil mengangkat kepala dari penis Herland dan menatapnya dengan senyum manisku.

“Enaaak banget Teeeh…” wajah Herland tampak keenakan.

Aku melanjutkan hisapanku yang membuat Herland mulai mengerang-erang keenakan, tangannya meremas-remas rambutku dan kedua payudaraku.

“Enak banget deh rasa penis kamu Land…” kataku sambil terus menghisap penis Herland.

Aku semakin bernafsu mengulum, menjilati dan mengocok penisnya. Kusedot dengan keras penis hitam itu. Kubuat pemiliknya medesah-desah, aku juga memakai lidahku untuk menyapu batangnya. Aku dapat melihat ekspresi kenikmatan pada wajah Herland akibat teknik oralku.

“Oooh… Terus Teehh… Herland hampir keluar…!” Herland semakin mendesah.

Karena Herland sudah hampir keluar, aku melepaskan hisapanku pada penisnya dan mulai mengocoknya dengan tangan kananku. Aku semakin bersemangat memainkan penis miliknya yang kepalanya sekarang berwarna lebih kehitaman. Semakin lama aku semakin cepat mengocoknya.

“Aaaaahh… Herland keluaaaarrr Teeeh..!!” desahan Herland semakin kencang.

“Croooot… Croooot…” tak lama kemudian penisnya menyemburkan sperma yang banyak sekali sehingga membasahi bagian wajah, payudara hingga hampir seluruh tubuhku. Dengan sigap aku menjilati sperma Herland yang masih menempel di penisnya seperti sedang menikmati es krim. Aku benar-benar menikmati permainan ini.

“Eeehhmmm… Sluuurp…” aku terus menikmati menghisap penisnya.

Kemudian aku meneruskan untuk mengusap dan menjilati semua sperma yang berceceran di wajah dan tubuhku lalu kutelan sampai tak tersisa. Lalu aku kembali menghisap penis Herland supaya sisa spermanya dapat kuhabiskan. Setelah aku yakin spermanya sudah benar-benar habis, aku melepaskan hisapan pada penisnya, kemudian benda itu mulai menyusut pelan-pelan.

“Nikmat banget sperma kamu Land…” bisikku mesra seraya menjilat sisa-sisa spermanya yang masih menempel pada bibirku.

“Obat awet muda ya Teh…?” kata Herland bercanda.

“Iya dong! Makanya Teteh tetep awet muda kan?” aku ikut membalas candanya.

Walaupun sudah sempat mencapai orgasme, namun ternyata birahiku belum juga padam. Aku berpikiran untuk melanjutkan permainan kami ke tahap selanjutnya.

“Land… Ayo sekarang masukin penis Herland ke vagina Teteh! Udah nggak tahan nih…” perintahku yang masih dikuasai hawa nafsu.

Tanpa pikir panjang lagi, Herland lalu mengambil posisi duduk, kemudian diacungkan penisnya dengan ke arah lubang vaginaku. Semula Herland merasa canggung, namun seiring dengan nafsu birahi yang mulai bangkit kembali, perlahan-lahan ia membelit dan mendekap tubuhku. Aku mengangkangkan kakiku lebar-lebar siap menerima serangan penisnya. Pelan-pelan dimasukkannya batang penisnya itu ke dalam vaginaku.

“Uuhh… Emmhhh…!” desisku saat penis yang sudah dalam keadaan keras lagi itu membelah bibir kemaluanku.

“Teh, dari dulu Herland emang pengen banget ngentot sama Teteh…!!” katanya sambil tersenyum nakal.

“Aaaauw… Pelan-pelan dong Land… Aaakh…” desahku sedikit kesakitan.

Walaupun sudah tidak perawan lagi, tapi vaginaku masih sempit. Mungkin juga karena penis Herland termasuk besar ukurannya.

“Aaahh… Enaaak Land…” desahku yang semakin merasakan nikmat.

Herland tampak merem-melek menahan nikmat. Tentu saja karena Herland baru pertama kali melakukan ini. Lalu dengan satu sentakan kuat penisnya berhasil menancapkan diri di lubang kenikmatanku sampai menyentuh dasarnya.

“Aaaahh… Nikmaat bangeett Laaand….” teriakku.

Aku melonjakkan pantatku karena merasakan kenikmatan yang luar biasa. Kurasakan cairan hangat vaginaku mulai mengalir di pahaku. Masa bodoh dengan status Herland yang adalah mantan pacar adikku! Sudah kepalang tanggung pikirku, yang pasti saat ini aku ingin merasakan nikmatnya bersetubuh hingga orgasme dengan Herland. Sesaat kemudian Herland memompa pantatnya maju mundur.

“Jrebb! Jrebb! Jrubb! Crubb!” suara penisnya sedang keluar masuk di vaginaku.

Tubuhku menggelepar di bawah pompaan batang penis Herland. Tangan mungilku berusaha menahan gerakan pinggul Herland, namun itu semua tidak dapat menghentikan terjangan batang penisnya. Akhirnya aku hanya menggantung kedua kakiku ke pinggang Herland.

“Aaaakh… Aaaakh… Nikmaaat banget Laaaand…!” aku terus merintih nikmat.

Aku menjerit-jerit karena merasakan nikmat yang luar biasa saat itu. Vaginaku yang sudah basah sekarang dimasuki dengan lancar oleh penis Herland yang sangat tegang itu.

“Oooooh… Herlaaaaaand…” aku berteriak menikmati sodokan penisnya pada vaginaku.

Semakin keras aku merintih dan mendesah, semakin kuat pula Herland menyodokkan batang penisnya. Tubuh mungilku terguncang hebat di bawah tindihan tubuh Herland, keringat kami yang bercucuran menambah semangat gelora birahi kami. Selagi bersetubuh, lidah kami berdua saling berpagutan. Tangan Herland meremas-remas buah pantatku dan mengusapi badanku yang basah kuyup oleh butiran keringat yang membanjir. Sekitar 10 menit kami bersetubuh dalam posisi ini, Herland mencabut penisnya.

“Teh, Herland capek. Teteh sekarang yang di atas yah…” pinta Herland tanpa memperdulikan wajahku yang kecewa.

“Dasar ABG…!” umpatku dalam hati namun tetap mengiyakan permintaannya.

Aku yang sudah tidak sabar lalu bangkit dan mendorongnya hingga terlentang. Kemudian aku naik ke atas tubuh Herland yang terlihat pasrah, kakiku kukangkangkan tepat di atas penisnya yang sudah dalam keadaan sangat tegang itu. Dengan birahi yang memuncak kuarahkan batang penis Herland untuk masuk ke dalam liang vaginaku.

“Bless!!” begitu penis itu tertanam sempurna di dalam liang senggamaku.

Tanganku bertumpu pada dada Herland, lalu tubuhku mulai bergerak naik turun secara perlahan. Aku mempergunakan seluruh kekuatan otot-otot panggulku saat berputar dan bergoyang. Di saat naik, otot-otot bagian dalam kewanitaanku mencengram dan menarik batang kemaluan Herland ke atas. Lalu pinggulku berputar lambat. Saat itulah Herland merasakan penisnya di peras-peras. Kemudian aku melepaskan kuncian vaginanya sambil menyentak turun dengan cepat.

“Teeehhh… Aaaaaaaaahhhh…!!” Herland mendesah nikmat.

Tangan Herland mengusap-ngusap pinggangku. Aku mengibaskan rambutku ke belakang kemudian melanjutkan menaik turunkan vaginaku dalam gerakan–gerakan yang erotis.

“Ooooooh… Herlaannddd…!!” aku menjerit keenakan.

Lalu dengan semangat aku menaik turunkan pantatku sambil sesekali aku goyangkan pinggulku. Herland menusuk batang penisnya ke atas saat belahan vaginaku merosot turun pada batang penisnya. Tubuhku tersentak-sentak turun naik di atas batang penis Herland. Aku terus menggoyang pinggulku dengan lebih liar lagi seperti sedang mengayak batang penis Herland.

“Cleppp… Bleppppp… Bleppppp… Clepppphhhh…” terdengar suara berdecakan saat aku semakin aktif menaik turunkan vaginaku.

Saat vaginaku bergoyang ke kiri, Herland memutar batang penisnya ke arah kanan, sedangkan saat vaginaku bergoyang ke kanan, Herland memutar batang penisnya ke arah sebaliknya. Tangan Herland turut menambahkan kenikmatan dengan mengelusi payudaraku bagian bawah sebelum meremas-remas lembut kedua payudaraku sambil terus menyodokkan batang penisnya ke atas hingga amblas sedalam-dalamnya ke dalam jepitan liang vaginaku.

Herland menggelepar tak berdaya di bawah kendaliku. Tubuh Herland melengkung saat puncak kenikmatan secara dahsyat menyengat kemaluannya.

“Ouuh… Memek Teteh eeenaaak bangeeeeet…! Kontol Herland kayak dipijeeet…” desahnya.

“Uhhh… Uuuh… Penis Herlaaand… Juga nikmaat…!” aku juga memuji keperkasaan penisnya.

Kedua tubuh kami sudah sangat basah oleh keringat. Karpet di ruangan ini pun sudah basah oleh cairan sperma Herland maupun lendir yang meleleh dari vaginaku. Namun entah kekuatan apa yang ada pada diri kami, kami masih saling memompa, merintih, melenguh, dan mengerang. Aku menghujamkan vaginaku berkali-kali dengan irama sangat cepat. Aku merasa semakin melayang. Bagaikan kesetanan aku menjerit-jerit seperti kesurupan. Akhirnya setelah sekitar setengah jam kami bergumul, aku merasa seluruh tubuhku bergetar hebat.

“Teeeh… Herland bentar lagi keluar nih…!” erangnya panjang sambil meringis.

Hal yang sama pula dirasakan olehku, aku tidak sanggup lagi menahan gelombang orgasme yang menerpaku demikian dahsyat.

“Aaaaaah… Teteeeh juga udah mau keluar Land…!! Kita keluar sama-sama Land…!!” aku berteriak kencang karena sudah hampir mencapai orgasme.

“Oooohh… Teeteeehhh… Aaaaaahh…!!” Herland berteriak panjang.

Goyanganku semakin kupercepat dan pada saat yang bersamaan kami berdua saling berciuman sambil berpelukan erat. Kemudian kami berdua mengerang dengan keras sambil menikmati tercapainya orgasme pada saat yang bersamaan.

“Creettt… Creettt… Cretttttt…” aku dapat merasakan sperma Herland menyembur deras di dalam vaginaku.

Sedangkan vaginaku juga mengeluarkan cairan yang sangat banyak, tanda aku sudah mencapai orgasme untuk yang kedua kalinya. Dari selangkanganku meleleh cairan hasil persenggamaan kami.

Aku memeluk erat-erat tubuh Herland sampai dia merasa sesak karena aku memeluknya dengan sangat kencang. Kami seakan sudah tidak peduli bila tetangga sebelah rumahku akan mendengarkan jeritan-jeritan kami. Kemudian Herland mencabut penisnya vaginaku hingga akhirnya kami berdua hanya bisa tergeletak lemas di atas karpet dengan tubuh bugil bermandikan keringat.

“Aaahh… Herland… Kamu hebaaat banget Land…” pujiku sambil mengistirahatkan tubuh yang sudah lemas ini.

“Herland ju… ga Teh… Haaah…. Haaaah… Terima ka… sih untuk kenik… matan ini… Belum pernah Herland ngerasain nikmat kayak gini…” jawab Herland sambil terengah-engah seraya mengecup keningku dengan mesra kemudian membelai-belai lembut rambutku layaknya sepasang kekasih.

“Land, kalo Herland mau kayak tadi lagi tinggal SMS Teteh ya…” kataku manja.

“Pasti dong Teh…!” jawab Herland yakin.

“Tapi hati-hati jangan sampe rahasia kita berdua ketahuan orang lain, terutama Dewi…” pintaku pada Herland.

“Sip deh pokoknya Teh. Herland janji…” jawabnya menyanggupi permintaanku.

Setelah merasa kuat untuk bangun, kami berdua beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri dari sperma, keringat dan liur. Tapi di kamar mandi kami tidak melakukan persetubuhan lagi, melainkan hanya berciuman mesra saja, karena kami takut tiba-tiba Dewi atau keluargaku yang lain akan segera pulang. Siraman air pada tubuhku benar-benar menyegarkan kembali pikiran dan tenagaku setelah hampir seharian penuh ‘bermain’ dengan Herland.

Kami berdua pun membersihkan ruang di sekitar ‘medan laga’ tadi dengan menyemprot pengharum ruangan untuk menutupi aroma bekas persenggamaan tadi. Setelah beres, kami pun sedikit berbincang mengenai kejadian tadi. Aku yang sempat ragu apa benar Herland belum pernah bersetubuh, karena dia sudah terlihat ahli, bertanya lagi kepadanya. Ternyata dari pengakuannya, memang Herland belum pernah melakukan persetubuhan dengan siapapun, termasuk Dewi. Herland mengaku melakukan ini hanya berdasarkan yang dia lihat dari DVD ataupun internet saja.

Di dalam pikiranku, aku juga merasa bersalah sekaligus kasihan kepada Dewi yang belum sempat merasakan nikmatnya penis Herland. Tentu saja kehilangan keperjakaan dengan kakak mantan pacarnya adalah pengalaman yang sangat mengesankan bagi Herland. Dia berharap kami dapat melakukannya lagi kapan-kapan. Aku pun juga ingin menikmati penis Herland lebih sering lagi.

Read More ..

CERITA 5

Namaku Chepy, 22 tahun, mahasiswa di sebuah universitas swasta ternama di Jakarta.
Kisahku ini adalah kejadian nyata tanpa aku rekayasa sedikitpun !. Kisahku bermula setahun yang lalu ketika temanku ( Dedy ) mengajakku menemaninya transaski dengan temannya ( Gunawan ). Saya jelaskan saja perihal kedua orang itu sebelumnya. Dedy adalah teman kuliahku dan dia seorang yang rajin dan ulet termasuk dalam hal berbisnis walaupun dia masih kuliah. Gunawan adalah teman kenalannya yang juga seorang anak mantan pejabat tinggi yang kaya raya ( saya tidak tahu apakah kekayaan orang tuanya halal atau hasil korupsi ! ).

Setahun yang lalu Gunawan menawarkan beberapa koleksi lukisan dan patung ( Gunawan sudah mengetahui perihal bisnis Dedy sebelumnya ) milik orang tuanya kepada Dedy, koleksi lukisan dan patung tersebut berusia tua. Dedy tertarik tapi dia membutuhkan kendaraan saya karena kendaraannya sedang dipakai untuk mengangkut lemari ke Bintaro, oleh karena itu Dedy mengajak saya ikut dan saya pun setuju saja. Perlu saya jelaskan sebelumnya, Gunawan menjual koleksi lukisan dan patung tersebut, oleh Dedy diperkirakan karena Gunawan seorang pecandu putaw dan membutuhkan uang tambahan.

Keesokan harinya ( hari Minggu ), saya dan Dedy berangkat menuju rumah Gunawan di kawasan Depok. Setelah sampai di depan pintu gerbang 2 orang satpam berjalan ke arah kami dan menanyakan maksud kedatangan kami. Setelah kami jelaskan, mereka mengijinkan kami masuk dan mereka menghubungi Gunawan melalui telepon. Saya memarkir kendaraan saya dan saya mengagumi halaman dan rumah Gunawan yang amat luas dan indah,

“ Betapa kayanya orang tua Gunawan” bisik dalam hatiku. Kami harus menunggu sebentar karena Gunawan sedang makan.

Sambil menunggu, kami berbicara dengan satpam. Dalam pembicaraan itu, seorang satpam menceritakan kalau Gunawan itu seorang playboy dan suka membawa wanita malam-malam ke rumahnya ketika orang tuanya sedang pergi. Setelah menunggu selang 10 menit, akhirnya Gunawan datang ( saya yang baru pertama kali melihatnya harus mengakui bahwa Gunawan memiliki wajah yang amat rupawan, walau saya pun seorang lelaki dan bukan seorang homo! ). Dedy memperkenalkan saya dengan Gunawan. Setelah itu Gunawan mengajak Dedy masuk ke rumah untuk melihat patung dan lukisan yang akan dijualnya.

Saya bingung apakah saya harus mengikuti mereka atau tetap duduk di pos satpam. Setelah mereka berjalan sekitar 15 meter dari saya, seorang satpam mengatakan sebaiknya kamu ( saya ) ikut mereka saja daripada bosan menunggu di sini ( pos satpam ). Saya pun berjalan menuju rumahnya. Ketika saya masuk , saya tidak melihat mereka lagi. Saya hanya melihat sebuah ruangan yang luas sekali dengan sebuah tangga dan beberapa pintu ruangan. Saya bingung apakah saya sebaiknya naik ke tangga atau mengitari ruangan tersebut ( sebenarnya bisa saja saya teriak memanggil nama Dedy atau Gunawan tapi tindakan itu sangat tidak sopan ! ).

Akhirnya saya memutuskan untuk mengitari ruangan tersebut dengan harapan dapat menemui mereka. Setelah saya mengitari, saya tetap tidak dapat menemukan mereka. Tapi saya melihat sebuah pintu kamar yang pintunya sedikit terbuka. Saya mengira mungkin saja mereka berada di dalam kamar tersebut. Lalu saya membuka sedikit demi sedikit pintu itu dan betapa terkejutnya saya ketika saya melihat seorang anak perempuan sedang tertidur dengan daster yang tipis dan hanya menutupi bagian atas dan bagian selangkangannya, saya bingung harus bagaimana !

Dasar otak saya yang sudah kotor melihat pemandangan paha yang indah, akhirnya saya masuk ke dalam kamar tersebut dan menutup pintu itu. Saya melihat sekeliling kamar itu, kamar yang luas dan indah, beberapa helai pakaian SLTP berserakan di tempat tidur, dan foto anak tersebut dengan Gunawan dan seorang lelaki tua dan wanita tua ( mungkin foto orang tuanya ). Anak perempuan yang sangat cantik, manis dan kuning langsat ! lalu saya melangkah lebih dekat lagi, saya melihat beberapa buku pelajaran sekolah dan tulisan namanya : Elvina kelas 1 C. Masih kelas 1 ! berarti usianya baru antara 11-12 tahun. Lalu saya memfokuskan penglihatan saya ke arah pahanya yang kuning langsat dan indah itu !.

ngin rasanya menjamah paha tersebut tapi saya ragu dan takut. Saya menaikkan pandangan saya ke arah dadanya dan melihat cetakan pentil susu di helai dasternya itu. Dadanya masih kecil dan ranum dan saya tahu dia pasti tidak memakai pakaian dalam ( BH atau kutang ) di balik dasternya itu !.
Wajahnya sangat imut, cantik dan manis ! Akhirnya saya memberanikan diri meraba pahanya dan mengelusnya, astaga….mulus sekali ! Lalu saya menaikkan sedikit lagi dasternya dan terlihatlah sebuah celana dalam ( CD ) warna putih. Saya meraba CD anak itu dan menarik sedikit karet CDnya , lalu saya mengintip ke dalam,….

Astaga ! tidak ada bulunya ! Jantung saya berdetak kencang sekali dan keringat dingin mengalir deras dari tubuh saya. Lalu saya mencium Cdnya, tidak ada bau yang tercium. Lalu saya menarik sedikit lagi dasternya ke atas dan terlihatlah perut dan pinggul yang ramping padat dan mulus sekali tanpa ada kotoran di pusarnya ! Luar biasa !

Otak porno saya pun sangat kreatif juga, saya memberanikan diri untuk menarik perlahan-lahan tali dasternya itu, sedikit-seditkit terlihatlah sebagian dadanya yang mulus dan putih ! ingin rasanya langsung memenggangnya, tapi saya bersabar, lalu saya menarik lagi tali dasternya ke bawah dan akhirnya terlihatlah pentil Elvina yang bewarna kuning kecoklatan ! Jantung saya kali ini terasa berhenti ! Sayapun merasa tubuh saya menjadi kaku. Jari sayapun mencolek pentilnya dan memencet dengan lembut payudaranya. Saya melakukankan dengan lembut, perlahan dan sedikit lama juga, sementara Elvina sendiri masih tertidur pulas. Setelah puas, saya menjilat dan mengulum pentilnya, terasa tawar.

Dasar otakku yang sudah gila, saya pun nekat menarik seluruh dasternya perlahan kearah bawah sampai lepas, sehingga Elvina kini hanya mengenakan celana dalam ( CD ) saja ! Saya memandangi tubuh Elvina dengan penuh rasa kagum. Tiba-tiba Elvina sedikit bergerak, saya kira ia terbangun, ternyata tidak, mungkin sedang mimpi saja. Saya mengelus tubuh Elvina dari atas hingga pusar/perut. Puas mengelus-elus, saya ingin menikmati lebih dari itu ! Saya menarik perlahan-lahan CD Elvina ke arah bawah hingga lepas. Kini Elvina telah telanjang bulat ! Betapa indahnya tubuh Elvina ini , gadis kelas 1 SLTP yang amat manis, imut dan cantik dengan buah dada yang kecil dan ranum serta vaginanya yang belum ada bulunya sehelaipun !

Lalu saya mengelus bibir vaginanya yang mulus dan lembek dan sayapun menciumnya. Terasa bau yang khas dari vaginanya itu ! Dengan kedua jari telunjuk saya, saya membuka bibir vaginanya dengan perlahan-lahan , terlihat dalamnya bewarna kemerah –merahan dengan daging di atasnya . Saya menjulurkan lidah saya ke arah vaginanya dan menjilat-jilat vaginanya itu. Saya deg-degan juga melakukan adegan itu. Saya tahu tindakan saya bisa ketahuan olehnya tapi kejadian ini sulit sekali untuk dilewatkan begitu saja ! Benar dugaan saya !

Pada saat saya sedang asyiknya menjilat vaginanya, Elvina terbangun ! Saya pun terkejut setengah mati ! Untung Elvina tidak teriak tapi hanya menutup buah-dadanya dan vaginanya dengan kedua tangannya. Mukanya kelihatan takut juga. Elvina lalu berkata

“ Siapa kamu, apa yang ingin kamu lakukan ?”. Saya langsung berpikir keras untuk keluar dari kesulitan ini !

Lalu saya mengatakan kepada Elvina: “ Elvina, saya melakukan ini karena Gunawan yang mengijinkannya !”, kataku yang berbohong. Elvina kelihatan tidak percaya lalu berkata

“Tidak mungkin, Gunawan kakakku !”. Pandai juga dia ! Tapi saya tidak menyerah begitu saja.

Saya mengatakan lagi “ Elvina, saya tahu Gunawan kakakmu tapi dia punya hutang yang amat besar pada saya, apakah kamu tega melihat kakakmu terlibat hutang yang amat besar ? Apakah kamu tidak kasihan pada Gunawan ?, kalau dia tidak melunasi hutangnya, dia bisa dipenjara ” kataku sambil berbohong . Elvina terdiam sejenak.

Saya berusaha menenangkan Elvina sambil mengelus rambutnya. Elvina tetap terdiam. Sayapun dengan lembut menarik tangannya yang menutupi kedua buah dadanya. Dia kelihatannya pasrah saja dan membiarkan tangannya ditarik oleh saya. Terlihat lagi kedua buah dadanya yang indah dan ranum itu ! Saya mencium pipinya dan berkata

“Saya akan selalu mencintaimu, percayalah !”. Saya merebahkan tubuhnya dan menarik tangannya yang lain yang menutupi vaginanya. Akhirnya dia menyerah dan pasrah saja terhadap saya. Saya tersenyum dalam hati. Saya langsung buru-buru membuka seluruh pakaian saya untuk segera menuntaskan “ tugas “ ini ( maklum saja, kalau terlalu lama, transaksi Gunawan dengan Dedy selesai, sayapun bisa ketahuan, ujung-ujungnya saya bisa saja terbunuh ! ).

Saya langsung mencium mulut Elvina dengan rakus. Elvina kelihatannya belum pernah ciuman sebelumnya karena dia masih kaku. Lalu saya mencium lehernya dan turun ke arah buah dadanya. Saya menyedot kedua buah dadanya dengan kencang dan rakus dan meremas-remas kedua buah dadanya dengan sangat kuat, Elvina kelihatannya kesakitan juga dengan remasan saya itu, Sayapun menarik-narik kedua pentilnya dengan kuat !

“Sakit kak “ kata Elvina. Saya tidak lagi mendengar rintihan Elvina. Saya mengulum dan menggigit pentil Elvina lagi sambil tangan kanan saya meremas kuat pantat Elvina. Setelah puas, saya membalikkan badan Elvina sehingga Elvina tengkurap.

Saya jilat seluruh punggung Elvina sampai ke pantatnya. Saya remas pantat Elvina kuat-kuat dan saya buka pantatnya hingga terlihat anusnya yang bersih dan indah. Saya jilat anus Elvina, terasa asin sedikit ! Dengan jari telunjuk saya, saya tusuk-tusuk anusnya, Elvina kelihatan merintih atas tindakan saya itu. Saya angkat pantat Elvina, saya remas bagian vagina Elvina sambil ia nungging ( posisi saya di belakang Elvina ). Elvina sudah seperti boneka mainan saya saja !. Setelah puas , saya balikkan lagi tubuh Elvina sehingga ia terlentang, saya naik ke atas kepala Elvina dan menyodorkan penis saya ke mulut Elvina.

“ Jilat dan kulum !” kataku. Elvina ragu juga pada awalnya, tapi saya terus membujuknya dan akhirnya ia menjilat juga.
Penis saya terasa enak dan geli juga dijilat olehnya, seperti anak kecil yang menjilat permen lolipopnya.

“Kulum !” kataku, dia lalu mengulumnya. Saya dorong pantat saya sehingga penis saya masuk lebih dalam lagi, kelihatannya dia seperti mau muntah karena penis saya menyentuh kerongkongannya dan mulutnya yang kecil kelihatan sulit menelan sebagian penis saya sehingga ia sulit bernapas juga. Sambil ia mengulum penis saya, tangan kanan saya meremas kuat-kuat payudaranya yang kiri hingga terlihat bekas merah di payudaranya.
Saya langsung melepaskan kuluman itu dan menuju ke vaginanya. Saya jilat vaginanya sepuas mungkin, lidah saya menusuk vaginanya yang merah pink itu lebih dalam, Elvina menggerak-gerakkan pantatnya kiri-kanan, atas-bawah, entah karena kegelian atau mungking ia menikmatinya juga. Sambil menjilat vaginanya, kedua tangan saya meremas-remas pantatnya.

Akhirnya saya ingin menjebol vaginanya. Saya naik ke atas tubuh Elvina, saya sodorkan penis saya ke arah vaginanya. Elvina kelihatan ketakutan juga,

“ Jangan kak, saya masih perawan !”, Nah ini dia ! saya membujuk Elvina dengan rayuan-rayuan manis. Elvina terdiam pasrah. Saya tusuk penis saya yang besar itu yang panjangnya 18 cm dan diameter 6 cm ke vaginanya yang kecil sempit tanpa bulu itu ! Sulit sekali awalnya tapi saya tidak menyerah. Saya lebarkan kedua kakinya hingga ia sangat mengangkang dan vaginanya sedikit terbuka lagi, saya hentakkan dengan kuat pantat saya dan akhirnya kepala penis saya yang besar itu berhasil menerobos vaginanya !

Elvina mencakar tangan saya sambil berkata “ sakitttt !!!” saya tidak peduli lagi dengan rintihan dan tangisan Elvina ! Sudah sepertiga penis saya yang masuk. Saya dorong-dorong lagi penis saya ke dalam lobang vaginanya dan akhirnya amblas semua ! Dan seperti permainan sex pada umumnya, saya tarik-dorong, tarik-dorong, tarik-dorong, terus-menerus ! Elvina memejamkan matanya sambil menggigit bibirnya. Tangan saya tidak tinggal diam, saya remas kedua buah dadanya dengan sangat kuat hingga ia kesakitan dan saya tarik-tarik pentilnya yang kuning kecoklatan itu kuat-kuat ! Saya memainkan irama cepat ketika penis saya menghujam vaginanya.

Baru 5 menit saya merasakan cairan hangat membasahi penis saya, pasti ia mencapai puncak kenikatannya. Setelah bermain 15 menit lamanya, saya merasakan telah mencapai puncak kenikmatan, saya tumpahkan air mani saya kedalam vaginanya hingga tumpah ruah. Saya puas sekali ! Saya peluk Elvina dan mencium bibir, kening dan lehernya. Saya tarik penis saya dan saya melihat ada cairan darah di sprei kasurnya. Habislah keperawanannya !.

Setelah itu saya lekas berpakaian karena takut ketahuan. Saya ambil uang 300.000 rupiah dari saku saya dan saya berikan ke Elvina ,

“ Elvina, ini untuk uang jajanmu, jangan bilang ke siapa-siapa yah “, Elvina hanya terdiam saja sambil menundukkan kepala dan menutupi kedua buah dadanya dengan bantal. Saya langsung keluar kamar dan menunggu saja di depan pintu masuk. Sekitar 10 menit kemudian Gunawan dan Dedy turun sambil menggotong lukisan dan patung. Ternyata mereka transaksinya bukan hanya lukisan dan patung saja tapi termasuk beberapa barang antik lainnya. Pantasan saja mereka lama !

Akhirnya saya dan Dedy permisi ke Gunawan dan ke kedua satpam itu. Kami pergi meninggalkan rumah itu. Dedy puas dengan transaksinya dan saya puas telah merenggut keperawanan adik Gunawan. Ha ha ha ha ha, hari yang indah dan takkan terlupakan !
TAMAT

Read More ..

CERITA 4

Perkenalkan nama panggilanku Maya. Aku baru berusia 18 tahun (SMA kelas III). Tinggiku lumayan sekitar 168 cm dan warna kulitku kuning bersih. Rambutku pendek sebahu, dan dadaku tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil juga. Sangat proporsional antara tinggi dan berat badanku. Kata orang-orang aku sangat cocok untuk seorang model. Dan aku belum mempunyai pacar. Aku anak ke 3 dari 4 bersaudara dan semua perempuan. Kakak-kakakku semua sudah mempunyai pacar, kecuali adikku yang paling kecil kelas dua SMP.

Pengalaman ini terjadi sekitar awal bulan Februari tahun 2001. Pengalaman ini tidak kukarang sendiri tapi berdasarkan cerita asli yang kualami di tahun 2001 ini. Ceritanya begini. Bermula saat aku berkenalan dengan seorang cowok, sebut saja namanya Muki. Orangnya tampan, tinggi sekitar 170 cm, dan tubuhnya atletis. Pokoknya sesuai dengan pria idamanku. Perbedaan umur kami sekitar 8 tahun, dan dia baru saja lulus dari universitas swasta terkenal di Jakarta. Kami kenalan pada saat aku sedang mempersiapkan acara untuk perpisahan kelas III di SMA-ku. SMAku di kawasan Jakarta Barat. Dan pada saat itu Muki sedang menemani adiknya yang kebetulan panitia perpisahan SMA kami. Pada saat itu Muki hanya melihat-lihat persiapan kami dan duduk di ruangan sebelah.

Akhirnya pada saat istirahat siang, inilah pertama kalinya kami ngobrol-ngobrol. Dan pada saat kenalan tersebut kami sempat menukar nomor telepon rumah. Kira -kira tiga hari kemudian, Muki menelepon ke rumahku.
"Hallo selamat sore, bisa bicara dengan Maya, ini dari Muki."
"Ada apa, kok tumben mau nelepon ke sini, aku kira sudah lupa."
"Gimana kabar kamu, mana mungkin aku lupa. Hmm, May ada acara nggak malam minggu ini."
Aku sempat kaget Muki mengajakku keluar malam minggu ini. Padahal baru beberapa hari ini kenalan tapi dia sudah berani mengajakku keluar. Ah, biarlah, cowok ini memang idamanku kok.

"Hmmm... belum tau, mungkin nggak ada, dan mungkin juga ada," jawabku.
"Kenapa bisa begitu," balas Muki.
"Ya, kalaupun ada bisa dibatalin seandainya kamu ngajak keluar, dan kalo batal acaranya aku bakalan akan nggak terima telpon kamu lagi," balasku lagi.
"Ooo begitu, kalau gitu aku jemputnya ke rumahmu, sabtu sore, kita jalan-jalan aja. Di mana alamat rumahmu."
Kemudian aku memberikan alamat rumahku di kawasan Maruya. Dan ternyata rumah Muki tidak begitu jauh dari rumahku. Ya, untuk seukuran Jakarta, segala sesuatunya dihitung dengan waktu bukan jarak.

Tepat hari sabtu sore, Muki datang dengan kendaraan dan parkir tepat di depan rumahku. Setelah tiga puluh menit di rumah, ngobrol -ngobrol dan pamitan dengan orang rumah, akhirnya kami meninggalkan rumah dan belum tahu mau menuju ke mana. Di dalam mobil kami berdua, ngobrol sambil ketawa-ketawa dan tiba-tiba Muki menghentikan mobilnya tepat di lapangan tenis yang ada di kawasan Jakarta Barat.

"May, kamu cantik sekali hari ini, boleh aku mencium kamu," bisik Muki mesra.
"Muk, apa kita baru aja kenalan, dan kamu belum tau siapa aku dan aku belum tau siapa kamu sebenarnya, jangan-jangan kamu sudah punya pacar."
"Kalo aku sudah punya pacar, sudah pasti malam minggu ini aku ke tempat pacarku."
"Muk, terus terang semenjak pertama kali melihat kamu aku langsung tertarik."
Tiba-tiba tangan Muki memegang tanganku dan meremasnya kuat -kuat."Aku juga May, begitu melihat kamu langsung tertarik."
Dan Muki menarik tanganku hingga badanku ikut tertarik, lalu Muki memelukku erat-erat dan mencium rambutku hingga telingaku. Aku merinding dan tiba-tiba tanpa kusadari bibir Muki sudah ada di depan mataku. Dan pelan-pelan Muki mencium bibirku. Pertama-tama, sempat kulepaskan. Karena inilah pertama kali aku dicium seorang laki-laki. Dan tanpa pikir panjang lagi, aku yang langsung menarik badan Muki dan mencium bibirnya. Ciuman Muki sepertinya sudah ahli sekali dan membuatku begitu bernafsu untuk menarik lidahnya. Oh.. betapa nikmatnya malam ini. Dan, lama-kelamaan tangan Muki mulai meraba sekitar dadaku.

"Jangan Muk, aku tidak mau secepat ini, lagi pula kita melakukannya di depan jalan, aku malu Muk," jawabku.
Sebenarnya aku ingin dadaku diremas oleh Muki karena aku sudah mengidam-idamkan dan sudah membayangkan apa yang akan terjadi berikutnya.
"May, bagaimana kalau kita nonton aja. Sekarang masih jam setengah delapan dan film masih ada kok."
Akhirnya aku setuju. Di dalam bioskop kami mencari tempat posisi yang paling bawah. Muki sepertinya sudah sangat pengalaman dalam memilih tempat duduk. Dan begitu film diputar, Muki langsung melumat bibirku yang tipis. Lidah kami saling beradu dan aku membiarkan tangan Muki meraba di sekitar dadaku. Walaupun masih ditutupi dengan baju.

Tiba-tiba Muki membisikkan sesuatu di telingaku, "May, kamu membuat nafsuku naik."
"Aku juga Muk," balasku manja.
Dan Muki menarik tanganku dan mengarahkan tanganku ke arah penisnya. "Astaga," pikirku. Ternyata diluar dugaanku, penis Muki sudah sangat tegang sekali. Dan aku tidak menyia-nyiakan kesempatan yang pertama kali ini. "Teruskan may, remas yang kuat dan lebih kuat lagi." Tak lama kemudian, tangan Muki sudah berhasil membuka bajuku. Kebetulan saat itu aku memakai kemeja kancing depan. Sehingga tidak terlalu susah untuk membukanya. Kebetulan aku memakai BH yang dibuka dari depan.

Akhirnya tangan Muki berhasil meremas susuku yang baru pertama kali ini dipegang oleh seseorang yang baru kukenal. Muki meremasnya dengan lembut sekali dan sekali-kali Muki memegang puting susuku yang sudah keras. "Teruskan Muk, aku enak sekali.." Dan tanpa sengaja aku pun sudah membuka reitsleting celananya, yang pada saat itu memakai celana kain. "Astaga," pikirku sekali lagi, tanganku dibimbing Muki untuk memasuki celana dalam yang dipakainya. Dan sesaat kemudian aku sudah meremas-remas penis Muki yang sangat besar. Kami saling menikmati keadaan di bioskop waktu itu. "Teruskan Muk, aku enak sekali.." Tidak terasa film yang kami tonton berlalu dengan cepat. Dan akhirnya kami keluar dengan perasaan kecewa.

"Kita langsung pulang ya May sudah malam," pinta Muki.
"Muk, sebenarnya aku belum mau pulang, lagian biasanya kakak-kakakku kalau malam mingguan pulangnya jam 11:30 malam, sekarang masih jam 10:15, kita keliling-keliling dulu ya." bisikku mesra.
Sebenarnya dalam hatiku ingin sekali mengulang apa yang sudah kami lakukan tadi di dalam bioskop. Namun rasanya tidak enak bila kukatakan pada Muki. Mudah-mudahan Muki mengerti apa yang kuinginkan.
"Ya, sudah kita jalan-jalan ke senayan aja, sambil ngeliat orang-orang yang lagi bingung juga," balas Muki dengan nada gembira.

Sampai di senayan, Muki memarkirkan mobilnya tepat di bawah pohon yang jauh dari mobil lainnya. Dan setelah Muki menghentikan mobilnya, tiba-tiba Muki langsung menarik wajahku dan mencium bibirku. Kelihatannya Muki begitu bernafsu melihat bibirku. Sebenarnya inilah waktu yang kutunggu-tunggu. Kami saling melumat bibir dan permainan lidah yang kami lakukan membuat gairah kami tidak terbendung lagi.

Tiba-tiba Muki melepaskan ciumannya. "May, aku ingin mencium susumu, bolehkan.." Tanpa berkata sedikit pun aku membuka kancing kemejaku dan membuka kaitan BH yang kupakai. Terlihat dua gundukan yang sedang mekar -mekarnya dan aku membiarkannya terpandang sangat luas di depan mata Muki. Dan kulihat Muki begitu memperhatikan bentuk bulatan yang ada di depan matanya. Memang susuku belum begitu tumbuh secara keseluruhan, tapi aku sudah tidak sabar lagi untuk dicium oleh seorang lelaki.

"May, apa ini baru pertama kali ada yang memegang yang menciumi susumu," bisik Muki.
"Iya, Muk, baru kamu yang pertama kali, aku memberikan ke orang yang benar -benar aku inginkan," balasku manja.
Tak lama kemudian, Muki dengan lembutnya menciumi susuku dan memainkan lidahnya di seputar puting susuku yang sedang keras. Aduh enak sekali rasanya. Inilah waktu yang tunggutunggu sejak lama. Nafsuku langsung naik pada saat itu.

"Jangan berhenti Muk, teruskan ya... aku enak sekali.." Dan tanganku pun dibimbing Muki untuk membuka reitsleting celananya. Dan aku membukanya. Kemudian Muki mengajak pindah tempat duduk dan kami pun pindah di tempat duduk belakang. Sepertinya di belakang kami bisa dengan leluasa saling berpelukan. Baju kemejaku sudah dilepas oleh Muki dan yang tertinggal hanya BH yang masih menggantung di lenganku. Reitsleting celana Muki sudah terbuka dan tiba-tiba Muki menurunkan celananya dan terlihat jelas ada tonjolan di dalam celana dalam Muki. Dan Muki menurunkan celana dalamnya. Terlihat jelas sekali penis Muki yang besar dan berwarna kecoklatan. Ditariknya tanganku untuk memegang penisnya. Dan aku tidak melepaskan kesempatan tersebut. Muki masih terus menjilati susuku dan sekali-kali Muki menggigit puting susuku.

"Muk, teruskan ya... jilat aja Muk, sesukamu.." desahku tak karuan.
Sementara aku masih terus memegang penis Muki. Dan sepertinya Muki makin bernafsu dengan permainan seksnya. Akhirnya Muki sudah tidak tahan lagi.
"May, kamu isap punyaku ya... mau nggak?"
"Isap bagaimana.."
"Tolong keluarin punyaku di mulutmu."
Sebenarnya aku masih bingung, tapi karena penasaran apa yang dimaui Muki, maka aku menurut saja apa permintaannya. Dan Muki merubah posisi duduknya, Muki menurunkan kepalaku hingga aku berhadapan langsung dengan kepunyaan Muki.

"Muk, besar sekali punyamu."
"Langsung aja may, aku sudah tidak tahan.."
Aku langsung mengulum pelan-pelan kepunyaan Muki. Inilah pertama kali aku melihat, memegang dan mengisap dalam satu waktu. Aku menjilati dan kadang kutarik dalam mulutku kepunyaan Muki. Sekali-kali kujilati dengan lidahku. Dan sekali-kali juga kujilati dan kuisap buah kepunyaan Muki. Aku memang menikmati yang namanya penis. Mulai dari atas turun ke bawah. Dan kuulangi lagi seperti itu. Dan kepala penis kepunyaan Muki aku jilatin terus. Ah... benar-benar nikmat.

Sekitar lima menit aku menikmati permainan punya Muki, tiba-tiba, Muki menahan kepalaku dan menyuruhku mengisap lebih kuat. "Terus May, jangan berhenti, terus isap yang kuat, aku sudah tidak tahan lagi.." Dan tidak lama setelah itu, Muki mengerang keenakan dan tanpa sadar, keluar cairan berwarna putih dari penis Muki. Apakah ini yang namanya sperma, pikirku. Dalam keadaan masih keluar, aku tidak bisa melepaskan penis Muki dari mulutku, aku terus mengisap dan menyedot sperma yang keluar dari penis Muki. Ah... rasa dan aromanya membuatku ingin terus menikmati yang namanya sperma. Aku pun tidak bisa melepaskan kepalaku karena ditahan oleh Muki. Aku terus melanjutkan isapanku dan aku hanya bisa melebarkan mulutmu dan sebagian cairan yang keluar tertelan di mulutku. Dan Muki kelihatan sudah enak sekali dan melepaskan tangannya dari kepalaku.

"May, aku sudah keluar, banyak ya.."
"Banyak sekali Muk, aku tidak sanggup untuk menelan semuanya, karena aku belum biasa."
"Tidak apa-apa May.."
Kemudian Muki mengambil cairan yang terbuang di sekitar penisnya dan menaruh ke susuku. Aku pun memperhatikan kelakuan Muki. Dan Muki mengelus-elus susuku. Akhirnya jam sudah tepat jam 11 malam. Dan aku diantar oleh Muki tepat jam 11 lewat 35 menit. Karena besoknya kami berjanji akan ketemu lagi. Malamnya entah mengapa aku sangat sulit sekali tidur. Karena pengalamanku yang pertama membuatku penasaran, entah apa yang akan kulakukan lagi bersama Muki esoknya.Dan, malam itu aku masih teringat akan penis Muki yang besar dan aroma sperma serta ingin rasanya aku menelan sekali lagi. Ingin cepat-cepat kuulangi lagi peristiwa malam itu.

Besoknya dengan alasan ada pertemuan panitia perpisahan, aku akhirnya bisa keluar rumah.Akhirnya sesuai jam yang sudah ditentukan, Muki menjemputku dan Muki membawaku ke suatu tempat yang masih teramat asing buatku.
"Tempat apa ini Muk," tanyaku.
"May, ini tempat kencan, daripada kita kencan di mobil lebih bagus kita ke sini aja, dan lebih
aman dan tentunya lebih leluasa. Kamu mau."
"Entahlah Muk, aku masih takut tempat seperti ini."
"Kamu jangan takut, kita tidak keluar dari mobil. Kita langsung menuju kamar yang kita pesan."

Dan sampai di garasi mobil, kami keluar, dan di garasi itu hanya ada satu pintu. Sepertinya pintu itu menuju ke kamar. Benar dugaanku. Pintu itu menuju ke kamar yang sudah dingin dan nyaman sekali, tidak seperti yang kubayangkan. Terlihat ada kulkas kecil, kamar mandi dengan shower, dan TV 21, dan tempat tidur untuk kapasitas dua orang.

"Maya, kita santai di sini aja ya... mungkin sampai sore atau kita pulang setelah magrib nanti, kamu mau.." pinta Muki.
"Aku setuju saja Muk, terserah kamu."

Setelah makan siang, kami ngobrol-ngobrol dan Muki membaringkan badanku di tempat tidur. "May, kamu mau kan melakukannya sekali lagi untukku." Aku setuju. Sebenarnya inilah yang membuatku berpikir malamnya apa yang akan kami lakukan berikutnya. Muki berdiri di depanku, dan melepaskan kancing kemejanya satu persatu, dan membuka celana panjang yang dipakainya. Terlihat sekali lagi dan sekarang lebih jelas lagi kepunyaan Muki daripada malam kemarin. Ternyata kepunyaan Muki lebih besar dari yang kubayangkan. Dan, dalam sekejap Muki sudah terlihat bugil di depanku. Muki memelukku erat-erat dan membangunkanku dari tempat tidur. Sambil mencium bibirku, Muki menarik ke atas baju kaos ketat yang kupakai. Dan memelukku sambil melepaskan ikatan BH yang kupakai. Dan pelan-pelan tangan Muki mengelus susuku yang sudah keras. Dan lama -kelamaan tangan Muki sudah mencapai reitstleting celanaku dan membuka celanaku. Dan menurunkan celana dalamku. Aku masih posisi berdiri, dan Muki jongkok tepat di depan vaginaku. Muki memandangku dari arah bawah. Sambil tangannya memeluk pahaku.

"May, bodi kamu bagus sekali."
Muki sekali lagi memperhatikan bulu-bulu yang tidak terlalu lebat dan menciumi aroma vaginaku.
"May, seandainya hari ini perawanmu hilang, kamu bagaimana."
"Terserah kamu Muk, aku tidak peduli tentang perawanku, aku ingin menikmati hari ini, denganmu berdua, dan aku kepengen sekali melakukannya denganmu.."

Akhirnya aku pasrah apa yang dilakukan oleh Muki. Kemudian Muki meniduriku yang sudah tidak memakai apa-apa lagi. Kami sudah sama-sama bugil. Dan tidak ada batasan lagi antara kami. Muki bebas menciumiku dan aku juga bebas menciumi Muki. Kami melakukannya sama-sama dengan nafsu kami yang sangat besar. Baru pertama kali ini aku melakukannya seperti hubungan suami istri. Muki menciumi seluruh tubuhku mulai dari atas turun ke bawah. Begitu bibir Muki sampai di vaginaku yang sudah sangat basah, terasa olehku Muki membuka lebar vaginaku dengan jari-jarinya. Ah... nikmat sekali. Seandainya aku tahu senikmat ini, ingin kulakukan dari dulu. Ternyata Muki sudah menjilati klitorisku yang panjang dan lebar. Dengan permainan lidahnya di vaginaku dan tangan Muki sambil meremas susuku dan memainkan putingku, aku rasanya sudah sangat enak sekali. Sepertinya tidak kusia-siakan kenikmatan ini tiap detik. Muki sekali-kali memasukan jarinya ke vaginaku dan memasukkan lidahnya ke vaginaku.

Akhirnya dengan nafsu yang sudah tidak bisa kutahan lagi, kukatakan pada Muki. "Muk, masukkan punyamu ke punyaku ya... masukannya pelan -pelan," pintaku. Muki lalu bangkit dari arah bawah. Dan menciumi bibirku. "May, kamu sudah siap aku masukkan, apa kamu tidak menyesal nantinya." "Tidak Muk, aku tidak menyesal. Aku sudah siap melakukannya."Lalu Muki melebarkan kakiku dan terlihat jelas sekali punya Muki yang sangat besar sudah siap-siap untuk masuk ke punyaku. Vaginaku sudah basah sekali. Dan kubimbing penis Muki agar tepat masuk di lubang vaginaku. Pertama-tama memang agak sakit, tapi punyaku sepertinya sudah tidak terasa lagi akan sakit yang ada, lebih banyak nikmatnya yang kurasakan. Dengan dorongan pelan dan pelan sekali, akhirnya punya Muki berhasil masuk ke dalam lorong kenikmatanku.

"Oh... enak sekali," jeritku.
Terasa seluruh lorong dan dinding vaginaku penuh dengan penis besar kepunyaan Muki. Dengan sekali tekan dan dorongan yang sangat keras dari penis Muki, membuat hari itu aku sudah tidak perawan lagi. Muki membisikkan sesuatu di telingaku, "May, kamu sudah tidak perawan lagi."
"Ngga apa-apa Muk, jangan dilepas dulu ya..."
"Terus Muk, goyang lebih kencang, aku enak sekali.." Dengan posisi aku di bawah, Muki di atas, kami melakukannya lama sekali. Muki terus menciumi susuku yang sudah keras, penis Muki masih terbenam di vaginaku. Akhirnya puncak kenikmatanku yang pertama keluar juga.

"Muki sepertinya aku sudah tidak tahan lagi... aku mau keluar."
"Keluarin terus May, aku tidak akan melepaskan punyaku."
"Muk, aku tidak tahan lagi... a..ahh... aaahh.. aku keluar Muk, aku keluar.. keluar Muk..enaak sekali, jangan berhenti, teruskan... aaaa... aaaa.." Pada saat orgasme yang pertama, Muki langsung menciumi bibirku. Oh... benar -benar luar biasa sekali enaknya.

Akhirnya aku menikmati kehangatan punya Muki dan aku masih memeluk badan Muki. Walaupun udara di kamar itu sangat dingin, tapi hawa yang kami keluarkan mengalahkan udara dingin.
"May, aku masih mau lagi, tidak akan kulepaskan... sekarang aku mau posisi enam sembilan. Kamu isap punyaku dan aku isap punyamu."
Kemudian kami berubah posisi ke enam sembilan. Muki bisa sangat jelas mengisap punyaku. Dan kelihatan kliotorisku yang sangat besar dan panjang.
"May punyamu lebar sekali."
"Isap terus Muk, aku ingin mengeluarkan sekali lagi dan berkali-kali."
Aku terus mengisap punya Muki sementara Muki terus menjilati vaginaku dan kami melakukannyasangat lama sekali. Penis Muki yang sudah sangat keras sekali membuatku bernafsu untuk melawannya. Dan permainan mulut Muki di vaginaku juga membuatku benar-benar terangsang dan sepertinya saat-saat seperti ini tidak ingin kuakhiri.

"Muk... aku mau keluar lagi... aku tidak tahan lagi honey..."
"Tahan sebentar May, aku juga mau keluar.."
Tiba-tiba Muki langsung merubah posisi. Aku di bawah dan dia di atas. Dengan cepat Muki melebarkan kakiku, dan oh.. ternyata Muki ingin memasukkan penisnya ke vaginaku. Dan sekali lagi Muki memasukkan penisnya ke vaginaku. Walaupun masih agak sulit, tapi akhirnya lorong kenikmatanku dapat dimasuki oleh penis Muki yang besar.

"Dorong yang keras Muk, lebih keras lagi," desahku. Muki menggoyangan badannya lebih cepat lagi.
"Iya Muk, seperti itu... terus... aaa..aaa... enak sekali, aku mau melakukannya terusmenerus denganmu.."
"May, aku sudah tidak tahan lagi... aku mau keluar..."
"Aku juga Muk, sedikit lagi, kita keluar sama -sama ya... aaa.."
"May... aku keluar.."
"Aku juga Muk... aaa... aa... terasa Muk, terasa sekali hangat spermamu.."
"Aduh, May... goyang terus May, punyaku lagi keluar..."
"Aduh Muk... enak sekali..."
Bibirku langsung menciumi bibir Muki yang lagi dipuncak kenikmatan. Tak lama kemudian kami sama-sama terdiam dan masih dalam kehangatan pelukan. Akhirnya kami mencapai kenikmatan yang luar biasa. Dan sama-sama mengalami kenikmatan yang tidak bisa diukur.

"May... spermaku sekarang ada di dalam punyamu."
"Ia Muk..."
Tidak lama kemudian, Muki membersihkan cairan spermanya di vaginaku.
"May, kalo kamu hamil, aku mau bertanggungjawab."
"Iya Muk.." jawabku singkat.

Akhirnya kami mandi sama-sama. Di kamar mandi kami melakukannya sekali lagi, dan aku mengalami kenikmatan sampai dua kali. Sekali keluar pada saat Muki menjilati vaginaku dan sekali lagi pada saat Muki memasukkan penisnya ke vaginaku. Muki pun mengalami hal yang sama.

Sorenya kami melakukannya sekali lagi. Kali melakukannya berulang kali. Dan istirahat kami hanya sebentar, tidak sampai satu jam kami sudah melakukannya lagi. Benar-benar luar biasa. Aku pun tidak tahu kenapa nafsuku begitu bergelora dan tidak mau berhenti. Kalau dihitunghitung dalam melakukan hubungan badan, aku sudah keluar 8 kali orgasme. Dan kalau hanya sekedar diisap oleh Muki hanya 3 kali. Jadi sudah 11 kali aku keluar. Sementara Muki sudah 7 kali.

Malamnya tepat jam 8.30 kami keluar dari penginapan. Padahal jika dipikir-pikir, hanya dalam waktu dua hari saja aku sudah melepaskan keperawananku ke seseorang. Dan sampai sekarang hubunganku dengan Muki bukan sifatnya pacaran, tapi hanya bersifat untuk memuaskan nafsu saja. Dan, baru kali ini aku bisa merasakan tidur yang sangat pulas sesampainya di rumah. Besoknya aku harus sekolah seperti biasa dan tentunya dengan perasaan senang dan ingin melakukannya berkali-kali. Seperti biasa setiap tanggal 20, aku datang bulan. Dan kemarin (tanggal 20 Februari 2001) ini aku masih dapat. Aku langsung menelepon Muki sepulang dari sekolah.

"Muk, aku dapat lagi, dan aku tidak hamil."
"Iya May... syukurlah..."
"Muk, aku ingin melakukannya sekali lagi, kamu mau Muk.."
Dan, ternyata kami bisa melakukannya di mana saja. Kadang aku mengisap penis Muki sambil Muki menyetir mobil yang lagi di jalan tol. Dan setelah cairan sperma Muki keluar yang tentunya semua kutelan, karena sudah biasa, setelah itu tangan Muki memainkan vaginaku. Kadang juga sebelum pulang aku tidak lagi mencium bibir Muki, tapi aku mengisap kepunyaan Muki sebelum turun dari mobil, hanya sekitar 2 menit, Muki sudah keluar. Dan aku masuk rumah masih ada sisa-sisa aroma sperma di mulutku. Di tiap pertemuan kami berdua selalu saling mengeluarkan. Jika kami ingin melakukan hubungan badan, biasanya kami menyewa penginapan dari siang sampai sore dan hanya dilakukan tiap hari sabtu karena pada saat itu sepulang sekolah Muki langsung mengajakku ke penginapan.

Inilah pengalamanku yang pertama. Jika ingin mengontakku silakan melalui emailku (mayamaruya@lovemail.com), aku siap bertukar pikiran dan pengalaman. Aku tidak akan memberikan teleponku. Mengingat aku masih SMA, belum diperbolehkan oleh kakak-kakakku. Padahal tanpa sepengetahuan mereka, aku lebih jauh melakukannya daripada mereka.

Read More ..

CERITA 3

Malam minggu itu, gw, pacar gw (Linda) dan kakaknya (Molly) dan gebetannya, berencana pergi bareng dugem untuk merayakan kenaikan pangkat kakaknya pacar gw. Rencananya acara itu dihadiri oleh temen2nya si Molly, tapi ntah kenapa, satu jam sebelum kita berangkat dugem, teman2nya satu persatu mengabari bahwa mereka tidak bisa ikut dikarenakan tidak enak badan dan ada juga yang sibuk mengurus tugas mereka. Yang menambah kesalnya Molly, ternyata gebetannya tiba-tiba meng-cancel acara dugem dikarenakan tiba-tiba dia ditelpon bossnya dan dikatakan besok pagi-pagi harus pergi keluar kota. Oleh karena itu pacarnya Molly harus beristirahat cepat.

Gw dan Linda sudah menyarankan ama Molly, lebih baik acaranya kita undur saja, tapi Molly sudah keburu BT karena sudah jauh-jauh kami datang ke Jakarta tapi ternyata temen2nya ga ada yang bisa menemanin kita, dan akhirnya acara dugem yang harusnya untuk merayakan kenaikan pangkat, menjadi dugem pelepas stress dan penghilang kesal.

Akhirnya kita hanya pergi bertiga dugem. Di tempat dugem, Molly membuka botol Jack Daniel’s. Gw pikir, siapa yang mau habisin neh, secara kita cuma bertiga, cewe gw ga kuat minum, dan gw ga bisa minum banyak-banyak karena gw harus nyetir.

Tapi ya sudahlah, kita nikmati saja acaranya dulu...

Untuk setengah jam, kita duduk di sofa sambil minum dan menikmati alunan musik DJ. Gw perhatiin mukanya Linda yang mulai memerah, kayaknya efek minumannya sudah berasa, dan dia ajak gw menuju ke dance floor. Gw izin dulu ke Molly untuk dance sebentar.

Setelah kita dance beberapa lama, gw dan Linda mulai berasa capek dan kembali menuju sofa. Gw lihat Molly masih saja minum Jack D sambil memegang hp. Si Linda ngajak Molly ngobrol...

”Mol, ngapain loe megang2 hp???”
”Gw kesel ama gebetan gw, Lin...”
”Kenapa?”
”Daritadi dia ga minta maaf sama gw, ga berusaha menghubungi gw... Padahal gw sayang sama dia...”
”Wah Mol, mungkin aja dia dah tidur, dia kan ntar harus bangun pagi...”
”Tapi tetep aja gw kesel!!!”
”Udah deh, kita kesini kan mau having fun...”
”Having fun gimana, gw sendirian neh, lu enak ada pasangan...”
”Dasar, udahlah kita bertiga dance bareng aja, Threesome... Hehehe...” Canda Linda...
”hehehe...”
”Bisa aja kamu dek...”

Kita lanjutkan minum bertiga sambil menikmati musik, dan joget2 kecil di bangku. Tak terasa botol Jack D sudah hampir habis, tinggal 1/8 botol.

”Lin, John, joget bareng yuk...” ajak Molly yang mukanya sudah seperti kepiting rebus seperti Linda.
”aduh kak, gw di sofa aja ya, udah pusing neh...”
”alah cupu loe dek, udahlah ya, gw pinjam Johnny aja ya...”

Molly menarik gw ke dance floor buat joget bareng, well, dibilang joget juga nggak, karena Molly sudah mabuk berat dan berdiri saja dia sulit, jadi kepala dia hanya bersender di dada gw...

”Kak, jangan gini, ga enak diliat ama Linda.”
”biarin ah, dia juga dah tepar gitu. Dia ga bakal ngeliat...”
”Tetep aja ah...”
”Udah diam aja deh, kepala gw dah berat...”

Kita lanjutin dance untuk beberapa saat.
Sampai Linda nyamperin kita,

”Kak, John, balik yuk, badan gw ga enak neh...”
”Gw seh terserah Molly aja...”
”ya udah deh... Kita balik ke sofa sambil nunggu billnya”

Begitu servernya datang dan memberikan Bill, gw urus billing dan tips. Lalu gw ajak Linda dan Molly pulang.

Untungnya Linda masih bisa jalan walaupun dia pusing berat, tidak seperti Molly yang setengah sadar atau mungkin udah ga sadar yang harus gw papah untuk jalan.
Gw papah Molly, tangan kirinya merangkul pundak gw dan tangan kanan gw menahan badannya, pas di bawah ketiak kanannya...

Linda berjalan di depan untuk mengurus Valet parking sementara gw dan Molly jalan di belakang. Setelah gw perhatiin, ternyata Molly ini menarik juga, badannya montok sexy. Rambutnya masih tercium harum walaupun dah bercampur dengan bau rokok, yang bikin gw agak terangsang.

Saat gw papah, tak sengaja tangan gw menyentuh toket kanannya Molly, gila enak banget tuh toket. Kenceng kenyal-kenyal gitu. Karena ngeliat ga ada respon negatif dari Molly, selanjutnya gw sengaja ngeremas toketnya, dan masih tetep aja ga ada respon dari si Molly. Wah seru juga neh... Jadi sepanjang perjalan ke Valet service gw meremas-remas toket Molly.

Begitu sampai di Valet Service, gw masukkan Molly di kursi belakang mobil, Gw yang nyetir dan Linda duduk disamping gw. Sepanjang perjalanan Linda dan Molly tidur. Kita menuju hotel dimana gw dan Linda nginap.

Setelah sampai di hotel, kembali lagi gw membopong Molly sampai masuk kamar, tapi gw tidak bisa lagi mencuri2 kesempatan dikarenakan hotel yang terang dan Linda yang berjalan di samping gw.

Sesampai di kamar, Linda langsung merebahkan diri dan tertidur di kasur dan Molly disampingnya. Mau ga mau gw kebagian di sofa deh... :’(
Tapi ya sudahlah ga masalah... Gw masih terbayang toket Molly yang gw remes tadi.

Gw langsung mandi untuk menyegarkan badan sekaligus berusaha menghilangkan bayangan toket dan tubuh Molly. Karena gw pikir mereka dah tidur, gw cuek aja keluar kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk. Tapi begitu buka pintu gw lihat Molly sedang melepas baju setengah telanjang, hanya mengenakan CD, karena mau memakai daster. Gw terdiam sesaat. Gw terpana melihat indahnya tubuh kakaknya pacar gw ini. Mata gw tertuju ke toketnya.

Gw bingung harus bagaimana, melihat tubuh Molly yang montok dan sexy itu, barang gw langsung ngaceng, menampakkan tonjolan di balik handuk gw. Ntah karena efek alkohol tadi atau bagaimana, Molly lalu menyamperin dan mendorong gw dengan keras masuk ke kamar mandi dengan muka yang merah dan menutup pintu di belakangnya.

Di kamar mandi hanya kita berdua. Gw sudah takut dimarahi habis-habisan oleh Molly. Karena sudah melihat dirinya yang setengah telanjang atau bahkan mungkin dia sadar gw sudah meraba2 dirinya.

”Apa-apaan seh loe? Keluar kamar mandi dengan Cuma mengenakan handuk saja, Melihat gw yang setengah bugil, dan tadi gw tau loe remes2 gw. Jangan gara-gara gw setengah sadar loe jadi berani melakukan itu tadi...”

waduh, Mampus gw ...” maaf mbak, tadi saya ga sengaja menyentuh toket mbak, gw juga pikir kalian dah tidur makanya gw keluar Cuma mengenakan handuk saja...”

”ga sengaja kok pake ngeremas-remas segala...
ga sengaja atau doyan??? gw tau loe suka ama badan gw!!”
Trus tiba2 dia mendekatin gw, dan mendorong gw hingga terduduk di pinggir bathtub, lalu dia mendekatkan toketnya ke gw, ”Remas lagi John, tadi enak banget... Isap John... Isap...” Nada suaranya tiba-tiba berubah

”hah? Apa??? Maaf mbak, nggak bisa begitu...” Gw bingung setengah mati, antara mau dan bingung apa yang harus gw lakukan.

”apa kamu bilang??? Kamu mau gw teriak biar Linda bangun, dan ngeliat loe lagi berduaan dengan gw di kamar mandi? Dan Loe mau gw adukan loe dah meremas toket gw?”

”Ngga mbak, ampun...”
”Ya sudah... Lakukanlah...”

Gw raba toket kanannya perlahan-lahan, sementara tangannya Molly memegang rambut gw dan menarik kepala gw menuju toket kirinya, ”Raba gw, Isap gw John...”

Setelah puas gw mainin toketnya, gw jilatin toketnya sambil gw gigit-gigit kecil dan gw isap putingnya. Badan Molly bergoyang sambil mengucapkan kata-kata yang ga jelas. Gila mantap banget rasanya. Toketnya ga jauh beda dengan punya Linda walaupun punya Molly lebih kecil dibanding Linda...

”Aaaaah... Terus John... Nikmat...” Tangannya membuka handuk gw memegang kontol gw yang ngaceng dan mulai mengocoknya perlahan-lahan. ”kayaknya enak juga neh kalo dimasukkan ke meki gw...”

Perlahan-lahan dia narik diri dari gw, dan mulai menurunkan badannya, hingga berlutut dan mengarahkan kepalanya ke kontol gw. Lalu dia mulai melahap kontol gw, sambil menatap mata gw. Gerakan mulutnya yang naik turun diiringi dengan sedotannya yang sungguh nikmat membuat gw semakin terangsang. Sumpah, beda banget dengan cara Linda, walaupun sama-sama enak. Kepalanya kupegang dan setiap kali kepalanya turun, kudorong kepalanya serendah mungkin agar seluruh batang kemaluanku dapat masuk ke dalam mulutnya.

”Mbak, enak banget mbak... Terus...”
Eh, tiba-tiba dia langsung berdiri. Meninggalkan gw yang lagi menikmati blowjobnya dia. Dia memunggungi gw, gw pikir dia mau keluar dari kamar mandi, ternyata dia melepaskan CD-nya dengan gerakan yang sangat merangsang.

Kembali dia berbalik dan berjalan mendekati gw. Tiba-tiba Dia naik kepangkuan gw dengan tangan kanan memegang kontol dan tangan kirinya memegang pundak gw untuk menjaga keseimbangan karena kedua kakinya naik ke pinggir bath tub juga. Tangan gw memegang pinggul Molly, Lalu diusapkanlah kepala kontol gw ke mekinya yang berasa hangat dan basah. Dimainkannya kontol gw di celah meki dan itilnya. Tampangnya begitu merangsang gw... Gw sudah sangat ingin merasakan meki si Molly.

Kemudian pelan-pelan, diturunkan pinggulnya ke arah kontol gw, dan dibenamkanlah kontol gw di dalam liang vaginanya...

"Ohh.. ahh..," Suara kami berdua yang merasakan nikmatnya awal dari persetubuhan kami ini...

Molly mulai menggoyang-goyangkan pinggulnya... Diiringi desahan-desahan lembut penuh birahi
"Aaaaah, John... enak John..." sambil memegang kepala gw...
Gw peluk badannya, gw jilatin leher, telinga, dada, toketnya nya dan pindah ke puting susunya, gw jilat2, Gw isap, dan gw gigit kecil, sehingga Molly melenguh kenikmatan...

Gerakan naik-turun pantat Molly semakin dahsyat, Gw hanya bisa sesekali membalasnya dengan mengangkat pantat gw hingga kontol gw tertanam sepenuhnya di meki Molly. Semakin lama semakin cepat gerakan naik turun pantatnya. Nafas Molly terlihat tersengal-sengal. Dan gw merasakan vaginanya berkedut-kedut semakin keras.

"Ah, John... Gw ... Mau keluar..."
Tangannya menarik kepala gw ke belahan dadanya...
"aaaaaaaaaah..."
Dia merangkul gw sambil Kepalanya nyender di atas kepala gw

Sambil beristirahat sejenak, Molly tersenyum ke arah gw.

"Enak mbak?" tanya gw sambil kontol gw tetap dalam mekinya.
Molly diam saja, namun tetap tersenyum... Senyuman Nakal... Hmmm...

Lalu perlahan-lahan dia berdiri melepaskan kontol gw dari mekinya, dan dia berjalan memunggungi gw.
Gw bingung apa maksudnya. Dia berjalan ke arah wastafel, dan tangannya memegang pinggir wastafel.
Perlahan-lahan dia membungkukan diri di depan wastafel lalu melebarkan kakinya, dan menunggingkan pantatnya.

Dari posisi ini, gw dapat melihat dengan jelas belahan mekinya, dan pantulan bayangan wajahnya yang cantik dan sexy.
akhirnya gw mengerti apa maksudnya. Gw langsung berdiri dan menghampiri Molly dari belakang.
Gw arahkan kontol gw ke mekinya, namun tidak langsung masuk. Gw gosok-gosok clitorisnya dengan cepat.
"John... Please... Cepetan dong... Cepat masukin kontol loe, gw dah ga tahan... Please..."
Gw masukkan kontol gw dari belakang. "aaaargh... John... Enak banget..."

Pantulan wajah Molly sungguh menggoda, dan dari sini gw bisa melihat seluruh tubuhnya yang terpantul dari cermin.
Tampangnya sungguh seksi menggairahkan.

Gw mulai memompa mekinya dengan pelan. Memek Molly berasa seakan-akan memijat kontol gw... Gila, enak bener...
Gw gerakan pinggang gw maju mundur, semakin cepat, tangan kanan gw meraih toket kirinya dan memeras serta memainkan putingnya.
"Terus john... Terus... lebih cepat... aaaargh..." mulutnya terus merintih tertahan.
Molly menggerakkan pantatnya berputar dengan lihai sehingga kontol gw terasa seperti diputar-putar dalam vaginanya.
Tampak Molly sangat menikmati permainan di depan cermin ini. Bayangan dua tubuh manusia yang bermandikan keringat, sedang berhubungan.
Pantulan wajahnya yang menunjukkan Matanya memandang nakal ke arah mata gw sambil dia menggigit bibir bawahnya.

"John... Gw.. mau... Keluar lagi... Aaaaaargh..."
Badannya bergetar, Vaginanya kembali berkedut keras dan kontol gw terasa semakin enak.
Setelah beberapa detik dalam keadaan ini, kontol gw jadi ga tahan.

"Mol, gw mau keluar..."
"Tahan say... tahan..."
Molly langsung melepaskan kontol gw dari mekinya, lalu membalikkan tubuhnya, dan memasukkan kontol gw ke dalam mulutnya.
Ia mengulumnya naik turun dan menjilat seakan-akan menjilat lolipop, sambil mengocok perlahan-lahan.
Dalam beberapa detik, muncratlah peju gw ke dalam mulutnya dan beberapa sempat menembak ke wajah dan dadanya.
Lalu dia memasukkan kembali kontol gw ke dalam mekinya, dan dijilatnya lembut hingga kontol gw benar benar bersih.
Gw terasa lemas sekali, tapi nikmat.

"Gila Mol, enak banget..."
"Peju lu juga enak banget, tapi sayang ada tercecer keluar... Hehehe"

Gw tarik badan Molly berdiri dan gw peluk, lalu gw cium bibirnya dengan lembut, dengan rasa sayang.
"John, kayaknya loe harus mandi lagi deh, badan loe keringatan dan kena peju tuh..." Molly tersenyum
"Iya deh... ini kan gara-gara loe juga... Hehehehe"

Akhirnya kita mandi bersama di bawah shower sambil menyabuni dan ciuman, tapi tidak lebih.
Lalu setelah itu kita keluar dari kamar mandi, berpakaian, dan tidur bertiga di ranjang.

Siangnya saat terbangun, kita bertingkah laku seakan tidak ada apa-apa yang terjadi.

Hingga saat ini Linda tidak pernah tau apa yang pernah terjadi malam itu, dan tiap kali gw ke Jakarta, gw sempatkan diri untuk "berjumpa" dengan Molly.

Read More ..

CERITA 1

Nama saya Rudi. Ini pengalaman nyata sekitar 5 tahun yang lalu. Waktu itu aku masih duduk di semester 7 Universitas P********n Indonesia jurusan MIPA. Nah, sebagai salah satu syarat kelulusan dan penulisan skripsi, kami diharuskan untuk menjadi guru Praktek Kerja Lapangan (PKL) ke SMP-SMP atau SMA-SMA di sekitaran Jawa Barat. Dasar nasib, aku kebagian untuk mengajar di sebuah SMU swasta di bilangan jalan Burangrang Bandung. SMP atau SMU swasta biasanya terkenal karena muridnya bengal-bengal dan sulit diajar *wadoh*.

Hari seninnya setelah mengurus surat ini itu dari kampus, aku langsung ditugaskan oleh Kepala Sekolah SMU tersebut untuk langsung terjun ke lapangan dan mengajar matematika untuk murid kelas XI. Aku kebagian 4 sesi di kelas pagi dan 2 sesi di kelas siang. Waktu pertama kali aku mengajar di kelas, aku berkata dalam hati "Astaga, ini sekolah apaan? Gua ngomong ga ada yang ngedengerin...mana cewe-cewenya pake rok pendek semua!"

Besoknya aku kembali ke sekolah dengan perasaan galau dan cemas. Jangan-jangan aku salah pilih karir menjadi guru. Aku ngga berbakat mengajar..anak-anak tak ada yang mendengarkan waktu aku lagi bicara". Tapi ternyata ada satu hal yang membangkitkan semangatku. Di sesi kelas sore ada murid perempuan yang bernama Ratih. Kulitnya sawo matang, rambut sepunggung, tingginya kira-kira 158 cm. Mukanya tidak terlalu cantik, tapi manis banget kalau lagi senyum. Dan yang lebih penting, kelihatannya dia satu-satunya murid yang kelihatan antusias kalau aku lagi mengajar. Dalam benakku sempat terlintas hal yang tidak-tidak, namun pikiran itu kubuang jauh-jauh. "Aku seorang guru. Aku akan menjaga integritas almamater dan profesiku" bisikku dalam hati.

Tapi semakin hari kemolekan tubuh Ratih malah semakin menggodaku. Seringkali aku mengintip paha mulusnya dan terkadang terlihat CDnya yang berwarna putih. Apalagi aku tahu dia juga suka padaku. Kalau aku masuk kelas, teman-temannya pasti menggodanya. Sampai suatu hari aku memutuskan untuk mengadakan ulangan pertama untuk anak-anak kelas XI. Lalu hal yang sangat menegejutkan pun terjadi. Waktu aku memeriksa lembar jawaban Ratih, ada tulisan :"Pak Rudi ini nomer hp saya: 0819*********".

Perasaanku campur aduk saat itu. "Telfon jangan yah" kataku dalam hati. Kalau aku telfon, artinya aku sudah menjatuhkan martabat profesiku sebagai guru. Kalau aku tidak telfon, aku akan menyesal karena tugasku sebagai guru PKL hanya tinggal 2 minggu lagi. Akhirnya kuberanikan diri untuk menelfon Ratih malam itu juga. Anehnya, waktu aku telfon, seolah-olah antara aku dan Ratih sudah seperti teman lama. Tidak ada batasan antara guru-murid. Yah, mungkin karena waktu itu juga umurku masih 22 tahun, sedangkan Ratih masih 17 tahun, jadi tidak terlalu jauh. Akhirnya kita janjian untuk jalan bareng hari sabtu sesudah dia selesai kelas olah raga.

Hari sabtu yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Kita sengaja janjian bertemu di Palaguna...mall butut tapi aman tidak akan dilihat orang. Waktu bertemu, dia masih mengenakan kaus olahraga SMA yang longgar dan rok SMA. Sehingga kalau menunduk, terlihat jelas payudaranya yang montok. Darahku langsung mendidih melihat Ratih. Langsung kukeluarkan jurus-jurus penaklukku:
"Ratih, kita ke tempat kak Rudi aja yuk. Nonton VCD atau apalah. Soalnya kalau dilihat orang ngga enak".
Awalnya Ratih menolak karena awalnya dia mau mengajak makan dan nonton. Tapi karena kupaksa, lama-lama dia setuju juga. Aku girang setengah mati. "Yes..berarti dia bisa dipake" batinku.

Sesampainya di tempat kost-ku,awalnya kita cuma nonton VCD sambil ngobrol-ngobrol. Lama kelamaan, topik pembicaraan kita mulai mengarah ke masalah pacar, sex dll. Karena terbawa suasana, entah siapa yang memulai, tiba-tiba kita sudah berciuman. Bibirku dan bibir Ratih berpagutan saling mengulum penuh nafsu. Wangi mulutnya sangat khas. Lalu dia mulai menjilat-jilat telinga dan leherku. "Buset, kayanya udah ahli ni orang" batinku. Karena nafsu sudah di ubun-ubun, aku mulai menyisipkan tanganku kedalam kaus olahraga Ratih dan kuremas-remas payudaranya. Nafas Ratih semakin memburu sewaktu kulepas kaus dan BHnya. Meskipun kulitnya sawo matang, putingnya berwarna coklat terang. Ukurannya tidak terlalu besar, mungkin 34B. Tapi sangat padat.

Ratih membalas dan mulai membuka kaus kemejaku. Tangannya masuk kedalam celanaku dan mulai meremas-remas kontolku. Lidahnya menjilat-jilat putingku dan tangannya tidak berhenti meremas-remas kontolku. Tidak sampai 5 menit, kita berdua sudah telanjang bulat. Tak usah disuruh, Ratih sudah langsung menciumi kontolku. Yang sangat membuatku kagum, dia meludahi seluruh kontolku sampai benar-benar basah, mengocoknya, baru mulai menghisap dengan mulutnya dengan gerakan naik-turun. "Edaaan" kataku dalam hati. Pasti dia sering main beginian.

Saking enaknya, baru 3 menit dihisap aku sudah tidak tahan untuk keluar. Spermaku muncrat di ujung mulutnya Ratih. "Yah, Ka Rudi, ko udah keluar lagi?" katanya. "Tenang aja, aku masih bisa kok" kataku. Sekarang gantian aku yang menjilati pussynya. Dia menggelinjang keenakan waktu aku menghisap-hisap klitorisnya. Perlahan-lahan, kontolku naek kembali karena wangi pussynya itu enak banget. Tapi hal yang mengejutkan kemudian terjadi. Waktu aku mau menusuk pussynya dengan jari tengahku, dia menolak. Ternyata dia masih perawan!

Aku masih duduk keheranan. "Hah, kamu masih perawan?" kataku. "Iya" timpanya. "Kak Rudi kaget yah?". Lalu dia bilang "kita petting aja yah..enak juga kok". Ini pengalaman baru untukku. Ternyata enak juga. Jadi posisiku duduk, kontolku dilipat keatas dan dia duduk diatasku sambil menggesek-gesekan pussynya ke kontolku.

Setengah jam berlalu, dia sudah keluar berkali-kali, tapi kontolku malah lecet. "Ratih...kalo gini terus kontol ka Rudi sakit, kita udahan dulu aja yah". Melihat raut muka kecewaku, Ratih terlihat merasa bersalah. "Duh maafin aku yah ka Rudi. Aku udah janji mau ngasih perawanku ke suamiku nanti. Tapi kalau ka Rudi mau, masukin aja ke belakang". Tanpa pikir panjang, karena sudah tanggung akupun menyetujuinya. Aku mulai mengoleskan nivea man dari kepala sampai ujung kontol, dan tidak lupa anus Ratih aku tusuk-tusuk dengan jari tengahku.

Setelah Ratih sudah merasa nyaman, dengan gaya doggy style akupun mulai memasukkan kontolku kedalam anusnya dengan sangat perlahan. Untunglah barangku juga tidak terlalu besar, yah paling 12 cm. Ternyata sulit juga karena dia terkadang merasa kesakitan sehingga harus mulai dari awal lagi. Setelah berkali-kali mencoba, akhirnya seluruh kontolku masuk kedalam anus Ratih. Ternyata sensasinya luar biasa. Anusnya sangat sempit dan rasanya seperti disedot-sedot vacuum cleaner. Akupun mulai menggerakan pantatku maju-mundur. Aku menyodomi Ratih sambil tanganku meremas-remas payudaranya dan mulutku menggigit-gigit lehernya. Ratih pun ternyata mengalami sensasi yang luar biasa, karena lenguhannya terdengar semakin keras.

Kemudian kita berganti posisi. Aku duduk disofa dan Ratih jongkok membelakangiku. Ini pemandangan yang luar biasa karena pantatnya yang indah tampak semakin besar. Anus Ratih menggejot kontolku dengan gerakan jongkok naik-turun. Tapi kemudian hal yang tak terduga (tapi sebenarnya sempat terpikirkan) pun terjadi. Tiba-tiba ada aroma tidak sedap yang mampir ke hidungku. Benar saja, ternyata dari anus Ratih mulai mengalir cairan warna coklat yang membasahi kontolku. Meskipun cairan itu sangat sedikit, tapi baunya cukup kentara. Anehnya, aku semakin terangsang. Aku langsung mempercepat genjotanku dan tidak lama kemudian spermaku berhamburan di dalam anus Ratih.

Semenjak hari itu, aku dan Ratih beberapa kali melakukan ritual anal sex sampai kemudian tugasku sebagai guru PKL di sekolahnya berakhir. Aku pernah melakukannya di WC guru, juga sehabis kelas olah raga. Aku juga pernah melakukannya lagi di WC sebuah mall di Bandung. Aku kehilangan kontak dengan Ratih semenjak aku ditugaskan di sebuah SMP di Ibukota, dan kemudian menikah dengan rekanku sesama guru.

Read More ..
 

SUPPLIER H2H




SUPPLIER H2H




BANNER ADS