BANNER ADS

BANNER ADS
Pasang banner kamu disini hanya 25rb/bulan

BANNER ADS

BANNER ADS
Pasang banner kamu disini hanya 25rb/bulan

BANNER ADS

BANNER ADS
Pasang banner kamu disini hanya 25rb/bulan

BANNER ADS

BANNER ADS
Pasang banner kamu disini hanya 25rb/bulan

Rabu, 23 Juni 2010

CERITA 6

Pada suatu pagi, aku sedang sendirian di rumah. Ayah, Ibu dan adik-adikku sedang ada acara masing-masing. Aku yang memang sedang tidak ada acara, bertugas untuk menjaga rumah. Daripada tidak ada kerjaan dan melamun sendirian, aku berniat untuk membersihkan rumah saja.

“Mengisi waktu luang sekaligus menyenangkan hati ibu…” pikirku waktu itu.

Ketika aku sedang membersihkan kamarku (waktu itu aku masih tidur berdua dengan Dewi, adikku yang bungsu), aku menemukan foto Dewi dengan mantan pacarnya ketika SMU yang bernama Herland. Keluargaku dan Herland sudah cukup dekat, bahkan dia sudah aku anggap sebagai adik kandungku sendiri. Tapi sejak Dewi putus darinya dan sudah memiliki pacar baru, Herland mulai jarang main ke rumah.

Tiba-tiba aku merasa kangen dengan Herland karena sudah jarang bertemu. Aku sempat berpikir kenapa tidak aku undang saja dia main ke rumah. Kemudian aku mengirim SMS ke nomer Herland yang masih aku simpan di Handphone-ku. Aku sengaja tidak memberitahukan kalau keluargaku sedang tidak ada di rumah semuanya, termasuk Dewi. Takut saja kalau Herland nanti merasa segan untuk main ke rumah. Aku sebenarnya berencana mau menjodohkan lagi Dewi dengan Herland agar dapat berpacaran kembali. Siapa tau dengan mengundang Herland ke rumah semuanya akan sesuai dengan rencana.

Setelah mengirimkan SMS, aku melanjutkan membersihkan kamarku yang sempat terhenti, sambil menunggu balasan dari Herland. Sesekali aku melihat Handphone-ku apakah sudah ada balasan darinya atau belum. Namun cukup lama menunggu, aku belum juga mendapatkan balasan darinya. Sampai akhirnya aku lupa sendiri dan larut dalam pekerjaanku.

Saat sedang membereskan lemari baju di kamar Amar, adik laki-lakiku, aku menemukan sekeping DVD tanpa cover. Karena penasaran aku mencoba menyetel DVD tersebut di ruang tengah. Aku terkejut, karena di layar TV sekarang terpampang pria dan wanita yang sedang saling mencumbu. Pertama mereka saling berciuman, kemudian satu persatu pakaian yang melekat mereka lepas. Si pria mulai menciumi leher sang wanita, kemudian turun ke arah payudaranya. Si wanita tampak menggeliat menahan nafsu yang membara.

Badanku gemetar dan jantungku berdegup kencang menyaksikan adegan-adegan panas te rsebut. Namun, aku yang tadinya berniat menghentikan film tersebut dan mengembalikan ke tempatnya, memutuskan untuk melanjutkan saja. Di tengah-tengah film, pikiranku menerawang mengingat saat terakhir aku dan teman-teman kampus Dewi menonton DVD seperti itu yang dilanjutkan bersetubuh dengan mereka.

Birahiku tiba-tiba saja semakin tinggi. Aku memang sudah seminggu ini tidak melakukan seks dengan adik laki-lakiku, padahal hal tersebut sudah menjadi ‘ritual’ bagi aku dan dia, sehingga selama menonton, tanpa sadar aku mulai melakukan masturbasi. Pakaianku sekarang sudah tidak karuan, kaos berwarna hitam yang aku pakai, sudah terangkat sampai di atas payudara. Kemudian Bra-ku sudah dalam keadaan terlepas. Kuelus-elus sendiri payudaraku sambil sesekali kuremas. Sungguh enak sekali rasanya, apalagi kalau sampai terkena putingnya.

Celana pendekku sudah aku turunkan sampai sebatas mata kaki, lalu tanganku aku masukan ke balik celana dalam dan langsung menggosok-gosok klitorisku. Sensasinya sungguh luar biasa! Semakin lama aku semakin gencar melakukan masturbasi, rintihanku semakin keras. Tangan kananku semakin cepat menggosok klitorisku, sementara yang satunya sibuk meremas-remas payudara.

“Oohh… Ooohh… Aaahh…” desahku yang sudah merasa hampir mencapai orgasme.

Tiba-tiba, pintu depan diketok. Tentu saja aku gelagapan memakai pakaianku yang terbuka sana-sini. Setelah itu aku mematikan DVD player tanpa sempat mengeluarkan Disc-nya.

“Aduh gawat…!!” pikirku panik.

“Tok… Tok…” terdengar lagi suara ketokan pada pintu depan.

“Siapa ya? Apa jangan-jangan Ayah dan Ibu? Tapi kan baru sebentar…” aku mulai kuatir.

Dengan terburu-buru aku membukakan pintu. Ternyata di depan pintu berdiri sosok yang sudah aku kenal, yaitu Herland mantan pacar adikku.

“Halo Teteh! Tadi SMS Herland ya? Maaf ya udah lama gak main nih…” katanya dengan ceria.

“Kirain Herland gak bisa datang? Kok nggak jawab SMS Teteh dulu sih?” tanyaku.

“Emang sengaja kok Teh. Kan Herland mau ngasih kejutan sama keluarga mantan pacar nih…” jawabnya sambil tersenyum.

“Oh gitu? Teteh kirain Herland udah nggak mau lagi main ke rumah…” candaku sambil mempersilakannya duduk di ruang tamu.

Herland hanya tersenyum mendengar candaku, mungkin dia juga sudah sangat kangen dengan sikap akrab yang diberikan oleh keluargaku.

“Kok sepi banget sih Teh? Yang lain lagi gak ada di rumah ya?” tanyanya bingung melihat suasana rumahku yang lengang tidak seperti biasanya.

“Sedang ada acara masing-masing tuh. Dewi juga lagi pergi sama temannya, jadi di rumah cuma ada Teteh doang. Maaf ya Land, Teteh gak kasih tau Herland sebelumnya. Abisnya Teteh juga udah lama gak ngobrol sama Herland sih…” aku mencoba menerangkan dan berharap Herland dapat maklum.

Terus terang saja, aku sudah sangat kangen dengan Herland. Ternyata Herland pun mau mengerti maksudku. Apalagi dia juga sudah menganggap keluargaku seperti keluarga sendiri, dia saja memanggil aku dengan ‘Teteh’ berbeda dengan kebanyakan teman-teman Dewi yang memanggilku dengan ‘Kakak’. Maklum saja keluarga Herland termasuk Broken Home, tapi tidak berarti dia nakal seperti layaknya anak yang tumbuh tanpa pengawasan orangtua.

Karena sudah lama aku tidak mengobrol dengan Herland, kami berbicara banyak mengenai berbagai hal. Aku juga sempat memperhatikan di usianya yang sudah menginjak 18 tahun, ia mulai tumbuh sebagai seorang pria dewasa. Walaupun secara fisik wajahnya yang menurutku cukup manis belum banyak berubah, tinggi badannya juga masih tidak berbeda denganku, hanya sekitar 160 cm. Tapi sikap dan pikirannya yang sekarang sudah jauh lebih dewasa.

Setelah cukup lama mengobrol, aku baru sadar kalau tubuhku dalam keadaan kotor setelah berberes rumah. Aku kemudian pamit dengan Herland untuk mandi. Setelah aku selesai mandi dan berpakaian, aku mengajaknya untuk makan siang bersama. Di saat makan, aku merasa Herland terus memperhatikan tubuhku yang saat itu memakai kaos putih ketat dan hotpants warna kulit.

“Huh, dasar cowok! Dimana-mana sama aja…!” omelku dalam hati.

Namun aku bisa memaklumi dia, karena pasti tubuh mungilku saat itu terlihat sangat sexy dan menggiurkan.

“Ada apa Land? Kok Herland ngelamun sih? Pasti lagi mikirin Dewi ya?” aku berpura-pura menanyakan hal lain untuk menyadarkan lamunannya.

“Eh, ng-gak kok Teh. Lagipula Dewi kan sekarang udah punya pacar baru…” ujar Herland sekenanya karena sedikit panik.

“Herland jangan pulang buru-buru yah. Tadi Teteh udah kasih tau ke Dewi kalau Herland lagi ada di rumah…” kataku berbohong supaya Herland dapat lebih lama lagi di sini.

“Iya deh. Herland juga mau di sini dulu sampe semuanya pulang…” jawabnya.

“Ya udah, Herland nonton TV dulu aja. Teteh mau masuk ke kamar dulu. Mau istirahat sebentar…” lanjutku.

“Ya udah Teh, nggak apa-apa kok. Teteh istirahat aja dulu…” kata Herland.

Setelah pamit ke Herland, aku beranjak masuk ke kamar tidur. Setelah menutup pintu kamar, aku bercermin. Wajahku terbilang manis, kulit kuningku juga bersih dan mulus karena sering luluran. Walaupun badanku mungil, tapi terbilang proporsional. Kemudian aku melepas bajuku dan mencopot Bra-ku, karena aku memang sudah terbiasa tidur tanpa menggunakan Bra. Aku sempat memperhatikan payudara milikku yang berukuran kecil namun kencang, dan tentu saja semakin membuat tubuhku tampak indah, karena sesuai dengan postur mungilku.

Ketika melihat ke arah bawah, aku tersenyum sendiri karena hotpants-ku memang membuat aku tampak sexy. Pantas saja Herland sampai memperhatikan tubuhku seperti itu. Aku yang dalam keadaan cukup lelah, merebahkan diriku sebentar di atas kasur tanpa memakai kaos dan mencoba beristirahat sejenak. Belum lama beristirahat, aku mendengar suara rintihan dari ruang tengah yang tepat berada di depan kamarku. Astaga! Aku baru ingat, itu pasti suara dari DVD porno yang lupa aku keluarkan tadi. Apa Herland sedang menyetelnya? Karena penasaran, aku pun bangkit dari tempat tidurku, dengan terburu-buru aku memakai kaos tanpa sempat memakai Bra terlebih dahulu, kemudian dengan perlahan-lahan aku keluar dari kamarku.

Begitu aku membuka pintu kamar, aku melihat pemandangan yang mendebarkan. Herland sedang berada di karpet depan TV sambil mengeluarkan penisnya dan mengocok-ngocoknya sendiri. Ternyata penisnya cukup besar juga untuk anak seusia dia, kurang lebih sekitar 14 cm dan sudah tampak tegang sekali.

Aku berpura-pura batuk, kemudian dengan tampang seolah-olah mengantuk aku mendekati Herland dan ikut duduk disampingnya. Dia tampak kaget menyadari aku sudah berada di sampingnya. Lalu dengan terburu-buru dia memasukkan penisnya ke dalam celananya lagi.

“Eh, kok Te…teh ga-ak jadi istira…hat…?” kata Herland salah tingkah.

Kemudian dengan wajah panik dia mengambil remote DVD dan hendak mematikan filmnya.

“Iya nih Land, gerah banget di dalam. Eh, filmnya nggak usah dimatiin. Kita nonton berdua aja yuk! Kayaknya seru tuh…” ujarku sambil menggeliat sehingga menonjolkan payudaraku yang hanya terbungkus oleh kaos putih ketatku saja.

“Hah? Teteh mau i-ikut nonton…? Jangan Teh, Herland malu…” katanya gugup.

“Kok Herland masih malu? Kayak sama siapa saja. Herland kan sudah seperti keluarga sendiri, masa masih malu sama Teteh?” kataku meyakinkannya.

“I-iya deh…” jawab Herland dan tidak jadi mematikan DVD-nya.

Dengan santai aku duduk di samping Herland dan ikut menonton. Aku mengambil posisi bersila sehingga hotpants-ku semakin tertarik dan memperlihatkan paha mulusku. Adegan-adegan erotis yang diperlihatkan bintang porno itu memang sungguh menakjubkan, mereka bergumul dengan buas dan saling menghisap. Aku melirik ke arah Herland yang sejak tadi bergantian antara memandangi adegan panas tersebut dan terkadang juga melirik ke arah paha dan payudaraku. Terlihat ia berkali-kali menelan ludahnya. Nafasku juga mulai memburu karena terangsang melihat film tersebut.

“Land, kamu pernah ngapain aja sih waktu pacaran sama Dewi?” tanyaku tiba-tiba.

“Ehmm… Paling ciuman aja sih Teh. Lagipula Herland juga tau kok Teteh pernah ngeliat Herland ciuman sama Dewi di ruang tamu…” jawab Herland terus terang.

“Oh gitu yah? Iya sih Teteh pernah liat. Terus, Herland udah pernah ngelakuin kayak adegan Film ini belum?” aku terus berusaha memancing Herland.

“Eh, Teteh kok nanya kayak gitu sih?” jawab Herland bingung.

Wajah Herland terlihat kaget mendengar pertanyaanku, soalnya saat itu matanya asyik mencuri pandang ke arah puting payudaraku yang tercetak pada kaos putihku. Aku semakin memanaskan aksiku, sengaja kakiku kubuka lebih lebar sehingga sekarang cetakan vagina pada Hotpants-ku terlihat jelas.

“Gak usah malu Land. Teteh bisa jaga rahasia kok…” tanyaku semakin penasaran.

“Belum kok Teh…! Beneran deh!” jawab Herland tersipu.

“Tapi pasti kamu udah sering nonton Film kayak gini kan?” lanjutku.

“Lumayan sering sih Teh. Tapi paling Herland nontonnya rame-rame sama temen…” jawab Herland polos.

“Land, menurut kamu Teteh tuh cantik gak sih?” lanjutku terus menggoda Herland.

“I-iya Teh! Sebenernya dari dulu Herland udah merhatiin kalo Teteh tuh cantik…” timpal Herland.

Merasa terus dipancing seperti itu Herland mulai memberanikan diri untuk memegang tanganku. Aku sedikit kaget, namun membiarkan tanganku dibelai oleh telapak tangannya. Terasa benar bahwa telapak tangan Herland basah oleh keringat karena gugup. Karena aku biarkan, dia terus membelai-belai bagian tangan seraya perlahan-lahan mulai naik untuk mengusap pergelangan tanganku. Aku pasrah saja ketika Herland memberanikan diri melingkarkan tangannya pada bahuku. Namun tampaknya ia belum berani untuk menatap mataku. Sambil terus memeluk bahuku, tangan kanannya mulai berani memegang-megang payudaraku.

“Enak ya Teh diginiin?” tanya Herland disela permainan tangannya.

“Emph… Emph…” aku hanya merintih menikmati remasan Herland pada payudaraku.

Sambil memegang payudaraku, dengan ganas Herland mulai menciumi bibir dan leherku. Akupun dengan tak kalah ganasnya membalas ciumannya. Keganasan kami berdua membuat suasana ruangan ini yang tadinya hening, menjadi riuh oleh suara-suara kecupan dan rintihan-rintihan erotis. Setelah beberapa menit kami berciuman, aku yang sudah terangsang berat berniat untuk melanjutkan ke bagian yang lebih jauh lagi.

“Land… Sebentar ya. Teteh buka kaos dulu…” kataku menghentikan pegangannya.

Herland hanya mengangguk mendengar kata-kataku. Tentu saja dia pasti sudah tidak sabar untuk melihat payudaraku yang tanpa terbungkus apa-apa lagi.

“Land, payudara Teteh bagus gak?” ketika aku sudah mencopot kaos ketatku sehingga payudaraku sudah terpampang jelas di hadapannya.

“Ba-bagus Teh…!” jawabnya dengan terbata-bata.

Herland tampak melotot menyaksikan bagian atas tubuhku yang menggoda. Hal itu malah membuat aku semakin terangsang dan melanjutkan perbuatanku. Merasa terus dipancing seperti itu, Herland tampaknya tidak tahan lagi. Ia langsung melumat bibirku sambil meraba-raba payudaraku yang sudah tidak tertutup apa-apa lagi. Aku memejamkan mata meresapinya, Herland semakin ganas menciumiku ditambah lagi tangannya berusaha memainkan vaginaku dari luar. Sembari melumat, lidahnya mencari-cari dan berusaha masuk ke dalam mulutku, dan ketika berhasil lidahnya bergerak bebas menjilati lidahku sehingga lidahku pun ikut bermain.

Kami berdua terlibat percumbuan panas selama beberapa saat, lidah kami saling belit dan jilat, ludah saling bertukar. Mulut Herland mulai menciumi daerah pundak dan leherku, rambutku dinaikkan ke atas oleh Herland sehingga memudahkannya untuk mencupangi leherku. Aku mengerang sejadi-jadinya, kadang eranganku tersendat saat diselingi ciuman.

Sambil memejamkan mata aku mencoba untuk mengikuti arus permainan. Dengan kuluman lidah Herland yang agresif, ditambah remasan-remasan telapak tangannya pada kedua payudaraku, birahiku pun dengan cepat naik. Saat ini aku hanya bisa pasrah saja tubuhku dipegang dan digerayangi oleh Herland. Tubuh bugilku menjadi objek bulan-bulanan mulut serta kedua tangannya.

“Aaaaahh… Herlaaaaaaand… Aaaahhhhhhh…” aku mendesah panjang merasakan nikmat yang melanda diriku.

Sementara di bawah sana kurasakan tangan Herland sedang merabai pahaku yang mulus.

“Paha Teteh mulus banget! Bikin Herland tambah nafsu aja…” sahut Herland sambil tangannya merayap naik lagi ke selangkanganku.

Ketika Herland sedang asyik-asyiknya menikmati rabaannya pada selangkanganku aku berkata “Land, berhenti dulu dong…”

“Kenapa Teh? Sakit yah…?” tanya Herland dengan wajah penasaran.

“Gak kenapa-kenapa kok. Teteh kan juga pengen liat Herland telanjang…” pintaku kepada Herland tanpa ada perasaan malu lagi.

Herland terlihat salah tingkah mendengar permintaanku. Karena sudah sangat bernafsu, aku membantu Herland untuk mencopot seluruh pakaiannya hingga dia bugil. Aku semakin terangsang melihat tubuh bugil Herland dari dekat. Badannya walaupun agak kurus tapi cukup berotot. Penisnya sudah mengacung tegak dan membuat jantungku berdebar cepat. Entah kenapa, kalau waktu dulu ngebayangin bentuk penis cowok aja rasanya jijik tapi ternyata sekarang malah membuat darahku berdesir.

“Wah penis kamu udah tegang Land! Panjang banget…!” pujiku.

“Abisnya Teteh bikin Herland nafsu sih!” jawab Herland.

“Te-teteh mau se-sepongin kontol Herland gak?” lanjutnya dengan nada gugup.

“Ternyata Herland nakal yah…” kataku dengan nada menggoda.

Karena sudah sangat terangsang, tanpa basa-basi lagi aku mulai mengocok, menjilat lalu mengulum batang kemaluan Herland dengan semangat. Bau penisnya yang cukup menyengat tidak aku perdulikan lagi karena aku sudah dikuasai oleh hawa nafsu.

“Slurp… Slurp… Slurp… Emmh… Slurp… Slurp… Slurp… Emmmmh…” terdengar suara hisapanku pada penis Herland yang benar-benar terasa nikmat sekali di mulutku.

“Teeeh…! Aaaah… Enaaakk bangeeet…! Akhirnya kesampaian juga Herland ngerasain disepong sama Teteh…” katanya sambil terus menikmati hisapanku pada penisnya.

Mendengar kata-kata Herland, aku semakin bernafsu menghisap penisnya. Terkadang aku juga menjilat buah zakarnya sehingga Herland mulai mendesah lebih keras.

“Hmmmm… Nikmat banget penis kamu Land. Enak gak diisepin Teteh?” kataku memuji kenikmatan penisnya.

“Aaaaahh… Ooohh…. Eeennakk banget Teh! Teteh udah pengalaman yah?” ceracau Herland menikmati hisapanku.

Aku hanya melanjutkan hisapanku tanpa menghiraukan pertanyaan Herland. Setelah beberapa menit merasakan hisapanku pada penisnya, Herland akhirnya tak kuat lagi menahan nafsu. Didorongnya tubuhku hingga terlentang di karpet, lalu diterkamnya aku dengan ciuman-ciuman ganasnya. Tangannya tidak tinggal diam dan ikut bekerja meremas-remas payudaraku.

“Ahh… Mmmh.. Uuuh.. Eenak Land…” desahku keenakan.

Aku benar-benar merasakan sensasi luar biasa. Sesaat kemudian mulutnya menjilati kedua putingku sambil sesekali diisap dengan kuat.

“Uuwh… Nikmaaaat bangeett… Aaah…!” desahanku semakin kencang.

Aku menggelinjang, tapi tanganku justru semakin menekan kepalanya agar lebih kuat lagi mengisap pentilku. Sejurus kemudian lidahnya turun ke arah vaginaku. Tangannya menarik Hotpants dan celana dalamku dan melemparnya ke sofa. Mata Herland seperti mau copot melihat vaginaku yang sudah tidak tertutup apa-apa lagi.

“Vagina Teteh bagus gak bentuknya Land..?” tanyaku kepada Herland.

“Bagus banget Teh! Herland suka banget memek Teteh. Nggak ada bulunya dan masih rapet…” jawabnya.

Sekarang tangannya bergerak menyelinap diantara kedua pangkal pahaku. Lalu dengan lembut Herland membelai permukaan vaginaku. Sementara tangan yang satunya mulai naik ke payudaraku, darahku semakin berdesir ketika telapak tangannya meremas-remas dadaku.

“Sshhhh…” desahku dengan agak gemetar ketika jarinya mulai menekan bagian tengah kemaluanku.

Jari tengah dan telunjuknya menyeruak dan mengorek-ngorek vaginaku, aku meringis ketika merasakan jari-jari itu bergerak semakin cepat mempermainkan nafsuku. Sementara selangkanganku makin basah oleh permainan jarinya, jari-jari itu menusuk makin cepat dan dalam saja. Hingga suatu saat birahiku sudah mulai naik, mengucurlah cairan pra-orgasmeku. Aku mengatupkan pahaku menahan rasa geli sekaligus nikmat di bawahku sehingga tangan Herland terhimpit diantara kedua paha mulusku.

“Eemmhh… Enaaaakk bangeettt…!” aku terus mendesah sehingga semakin membangkitkan nafsu Herland.

Setelah dia cabut tangannya dari kemaluanku, nampak jari-jarinya sudah belepotan oleh cairan bening yang berasal dari vaginaku. Dia jilati cairanku di jarinya itu tanpa rasa jijik, kemudian aku juga ikutan menjilati jarinya merasakan cairan cintaku sendiri. Kemudian dia masukkan lagi tangannya ke vaginaku, kali ini dia juga mengelus-ngelus daerah itu seperti sedang mengelapnya.

Setelah puas memainkan jari-jarinya di vaginaku, kurasakan Herland mulai menjilati kedua pahaku yang mulus dan merangsang, jilatannya perlahan-lahan mulai menjalar menuju ke tengah. Kemudian Herland membuka vaginaku lebar-lebar sehingga klitorisku menonjol keluar, aku hanya dapat bergetar saat kurasakan lidahnya menyusup ke pangkal pahaku lalu menyentuh bibir vaginaku. Bukan hanya bibir vaginaku yang dijilatinya, tapi lidahnya juga masuk ke liang vaginaku, rasanya sungguh nikmat, geli-geli enak seperti mau pipis.

“Aaaaahh Herlaaannnd!! Uuuhh… Eeeenak… Teruuuus… Aaaaaahhh!” jeritku menikmati jilatan Herland.

Herland terus menjilatinya dengan rakus sambil sesekali menggigit kecil klitorisku atau terkadang dihisapnya dengan kuat. Bagian itu dijilatinya dengan ujung lidahnya sehingga aku pun tidak bisa menahan eranganku. Sambil terus menjilat, Herland juga mengelusi bongkahan pantat dan paha mulusku yang mempercepat naiknya libidoku.

“Aaaahhh… Terus Land… Nikmaaaat bangeeeet…” aku mendesah kencang yang membuat Herland semakin bernafsu.

Aku terus mendesah sambil gemetaran. Lidah Herland terus langsung menjilati selangkanganku. Herland menggigit pelan klitorisku dan mulutnya melakukan gerakan mengisap. Sekarang vaginaku sudah terasa mulai becek. Mungkin karena vaginaku mengeluarkan aroma yang enak dan cairan yang manis sehingga membuat Herland sangat menikmatinya.

“Slurp… Slurp… cairan memek Teteh gurih banget… Mmmmmh… Slurrrppp…” katanya disela-sela menjilati vaginaku yang sudah sangat basah.

“Aaaaarghh…!! Teteh suka banget dijilatin sama Herland…! Enaaaak bangeeeet…!” aku terus meracau menikmati jilatan Herland.

Herland terus menjilati vaginaku sampai akhirnya aku nggak tahan lagi. Tidak sampai lima menit, tubuhku mulai mengejang, rasa nikmat itu menjalar dari vagina ke seluruh tubuhku.

“Land… Kayaknya Te-Teteh udah mau keluaar nih…” kataku kepada Herland yang semakin bernafsu saja menjilati vaginaku.

“Aaaaaaaaaahh… Teeteeehhh keluaaar Laannndd….!!” aku menjerit panjang merasakan nikmat yang amat sangat pada seluruh tubuhku.

Aku merasakan cairan kewanitaanku tumpah semua. Tampaknya aku mencapai orgasme yang pertama akibat permainan jari ditambah dengan jilatan-jilatan lidah Herland pada vaginaku.

“Hhhmm… E-enak Teeeh… Sluuuurrpp… Sluuurrpp… Gurih banget rasanya!” ceracau Herland dari bawah sana.

Dengan rakusnya Herland menyeruput cairan bening yang masih hangat itu. Aliran orgasmeku diseruputnya dengan bernafsu. Aku mendesis dan meremas rambutnya sebagai respon atas tindakannya. Vaginaku terus dihisapinya selama kurang lebih 3 menitan. Sensasi itu berlangsung terus sampai kurasakan cairanku tidak keluar lagi, barulah kemudian Herland melepaskan kepalanya dari situ, nampak mulutnya basah oleh cairan cintaku.

“Haaah… Haaah… He-herland jago banget sih bisa bikin keluar Teteeeh…” dengan nafas terengah-engah aku memuji permainan Herland barusan.

“Enak ya Teh diisep memeknya kayak tadi?” tanya Herland.

Pertanyaan Herland kali ini hanya aku jawab dengan anggukan pelan. Tak disangka Herland yang baru pertama kali melakukan ini telah mampu membuat aku orgasme.

“Sekarang giliran Teteh bikin Herland keluar yah…” pintanya tak sabaran karena belum merasa dipuaskan olehku.

“Emangnya Herland mau diapain sama Teteh?” tanyaku yang sebenarnya masih lemas karena baru saja mencapai orgasme.

“Sepongin kontol Herland lagi dong! Abisnya sepongan Teteh bikin Herland ketagihan sih!” jawab Herland.

Lalu Herland mengambil posisi duduk di sofa sambil kembali memamerkan penis miliknya yang sekarang sudah sangat tegang. Aku bersimpuh dihadapannya dengan lututku sebagai tumpuan. Kuraih penis itu, pertama kukocok dengan lembut kemudian semakin cepat dan pelan lagi. Hal itu tentunya semakin memainkan birahi Herland.

“Aaaah… Teteeeeh…! Enaak bangeeet…” Herland mendesah kencang.

Setelah puas mengocok-ngocok penisnya, aku mulai menjilati batangnya dengan pelan. Mungkin karena Herland sudah dikuasai hawa nafsu, dengan setengah memaksa dia mengarahkan batang penisnya ke mulutku yang dan kemudian menjejali penisnya ke mulutku. Aku yang tak punya pilihan lain langsung memasukkan penis itu ke mulutku. Kusambut batangnya dengan kuluman dan jilatanku, aku merasakan aroma khas pada benda itu, lidahku terus menjelajah ke kepala penisnya. Lalu kupakai ujung lidahku untuk menyeruput lubang kencingnya. Hal itu membuat Herland blingsatan sambil meremas-remas rambutku.

“Sluurpp… Sluuuurp… Mmmmmh..” desahku sambil menikmati setiap jengkal penisnya.

“Aaahhh terus Teh… Teteeeeh… Aaahh…” Herland terus mendesah selagi aku menghisap penisnya.

“Enak ya Land…? Hmmmm…?” tanyaku sambil mengangkat kepala dari penis Herland dan menatapnya dengan senyum manisku.

“Enaaak banget Teeeh…” wajah Herland tampak keenakan.

Aku melanjutkan hisapanku yang membuat Herland mulai mengerang-erang keenakan, tangannya meremas-remas rambutku dan kedua payudaraku.

“Enak banget deh rasa penis kamu Land…” kataku sambil terus menghisap penis Herland.

Aku semakin bernafsu mengulum, menjilati dan mengocok penisnya. Kusedot dengan keras penis hitam itu. Kubuat pemiliknya medesah-desah, aku juga memakai lidahku untuk menyapu batangnya. Aku dapat melihat ekspresi kenikmatan pada wajah Herland akibat teknik oralku.

“Oooh… Terus Teehh… Herland hampir keluar…!” Herland semakin mendesah.

Karena Herland sudah hampir keluar, aku melepaskan hisapanku pada penisnya dan mulai mengocoknya dengan tangan kananku. Aku semakin bersemangat memainkan penis miliknya yang kepalanya sekarang berwarna lebih kehitaman. Semakin lama aku semakin cepat mengocoknya.

“Aaaaahh… Herland keluaaaarrr Teeeh..!!” desahan Herland semakin kencang.

“Croooot… Croooot…” tak lama kemudian penisnya menyemburkan sperma yang banyak sekali sehingga membasahi bagian wajah, payudara hingga hampir seluruh tubuhku. Dengan sigap aku menjilati sperma Herland yang masih menempel di penisnya seperti sedang menikmati es krim. Aku benar-benar menikmati permainan ini.

“Eeehhmmm… Sluuurp…” aku terus menikmati menghisap penisnya.

Kemudian aku meneruskan untuk mengusap dan menjilati semua sperma yang berceceran di wajah dan tubuhku lalu kutelan sampai tak tersisa. Lalu aku kembali menghisap penis Herland supaya sisa spermanya dapat kuhabiskan. Setelah aku yakin spermanya sudah benar-benar habis, aku melepaskan hisapan pada penisnya, kemudian benda itu mulai menyusut pelan-pelan.

“Nikmat banget sperma kamu Land…” bisikku mesra seraya menjilat sisa-sisa spermanya yang masih menempel pada bibirku.

“Obat awet muda ya Teh…?” kata Herland bercanda.

“Iya dong! Makanya Teteh tetep awet muda kan?” aku ikut membalas candanya.

Walaupun sudah sempat mencapai orgasme, namun ternyata birahiku belum juga padam. Aku berpikiran untuk melanjutkan permainan kami ke tahap selanjutnya.

“Land… Ayo sekarang masukin penis Herland ke vagina Teteh! Udah nggak tahan nih…” perintahku yang masih dikuasai hawa nafsu.

Tanpa pikir panjang lagi, Herland lalu mengambil posisi duduk, kemudian diacungkan penisnya dengan ke arah lubang vaginaku. Semula Herland merasa canggung, namun seiring dengan nafsu birahi yang mulai bangkit kembali, perlahan-lahan ia membelit dan mendekap tubuhku. Aku mengangkangkan kakiku lebar-lebar siap menerima serangan penisnya. Pelan-pelan dimasukkannya batang penisnya itu ke dalam vaginaku.

“Uuhh… Emmhhh…!” desisku saat penis yang sudah dalam keadaan keras lagi itu membelah bibir kemaluanku.

“Teh, dari dulu Herland emang pengen banget ngentot sama Teteh…!!” katanya sambil tersenyum nakal.

“Aaaauw… Pelan-pelan dong Land… Aaakh…” desahku sedikit kesakitan.

Walaupun sudah tidak perawan lagi, tapi vaginaku masih sempit. Mungkin juga karena penis Herland termasuk besar ukurannya.

“Aaahh… Enaaak Land…” desahku yang semakin merasakan nikmat.

Herland tampak merem-melek menahan nikmat. Tentu saja karena Herland baru pertama kali melakukan ini. Lalu dengan satu sentakan kuat penisnya berhasil menancapkan diri di lubang kenikmatanku sampai menyentuh dasarnya.

“Aaaahh… Nikmaat bangeett Laaand….” teriakku.

Aku melonjakkan pantatku karena merasakan kenikmatan yang luar biasa. Kurasakan cairan hangat vaginaku mulai mengalir di pahaku. Masa bodoh dengan status Herland yang adalah mantan pacar adikku! Sudah kepalang tanggung pikirku, yang pasti saat ini aku ingin merasakan nikmatnya bersetubuh hingga orgasme dengan Herland. Sesaat kemudian Herland memompa pantatnya maju mundur.

“Jrebb! Jrebb! Jrubb! Crubb!” suara penisnya sedang keluar masuk di vaginaku.

Tubuhku menggelepar di bawah pompaan batang penis Herland. Tangan mungilku berusaha menahan gerakan pinggul Herland, namun itu semua tidak dapat menghentikan terjangan batang penisnya. Akhirnya aku hanya menggantung kedua kakiku ke pinggang Herland.

“Aaaakh… Aaaakh… Nikmaaat banget Laaaand…!” aku terus merintih nikmat.

Aku menjerit-jerit karena merasakan nikmat yang luar biasa saat itu. Vaginaku yang sudah basah sekarang dimasuki dengan lancar oleh penis Herland yang sangat tegang itu.

“Oooooh… Herlaaaaaand…” aku berteriak menikmati sodokan penisnya pada vaginaku.

Semakin keras aku merintih dan mendesah, semakin kuat pula Herland menyodokkan batang penisnya. Tubuh mungilku terguncang hebat di bawah tindihan tubuh Herland, keringat kami yang bercucuran menambah semangat gelora birahi kami. Selagi bersetubuh, lidah kami berdua saling berpagutan. Tangan Herland meremas-remas buah pantatku dan mengusapi badanku yang basah kuyup oleh butiran keringat yang membanjir. Sekitar 10 menit kami bersetubuh dalam posisi ini, Herland mencabut penisnya.

“Teh, Herland capek. Teteh sekarang yang di atas yah…” pinta Herland tanpa memperdulikan wajahku yang kecewa.

“Dasar ABG…!” umpatku dalam hati namun tetap mengiyakan permintaannya.

Aku yang sudah tidak sabar lalu bangkit dan mendorongnya hingga terlentang. Kemudian aku naik ke atas tubuh Herland yang terlihat pasrah, kakiku kukangkangkan tepat di atas penisnya yang sudah dalam keadaan sangat tegang itu. Dengan birahi yang memuncak kuarahkan batang penis Herland untuk masuk ke dalam liang vaginaku.

“Bless!!” begitu penis itu tertanam sempurna di dalam liang senggamaku.

Tanganku bertumpu pada dada Herland, lalu tubuhku mulai bergerak naik turun secara perlahan. Aku mempergunakan seluruh kekuatan otot-otot panggulku saat berputar dan bergoyang. Di saat naik, otot-otot bagian dalam kewanitaanku mencengram dan menarik batang kemaluan Herland ke atas. Lalu pinggulku berputar lambat. Saat itulah Herland merasakan penisnya di peras-peras. Kemudian aku melepaskan kuncian vaginanya sambil menyentak turun dengan cepat.

“Teeehhh… Aaaaaaaaahhhh…!!” Herland mendesah nikmat.

Tangan Herland mengusap-ngusap pinggangku. Aku mengibaskan rambutku ke belakang kemudian melanjutkan menaik turunkan vaginaku dalam gerakan–gerakan yang erotis.

“Ooooooh… Herlaannddd…!!” aku menjerit keenakan.

Lalu dengan semangat aku menaik turunkan pantatku sambil sesekali aku goyangkan pinggulku. Herland menusuk batang penisnya ke atas saat belahan vaginaku merosot turun pada batang penisnya. Tubuhku tersentak-sentak turun naik di atas batang penis Herland. Aku terus menggoyang pinggulku dengan lebih liar lagi seperti sedang mengayak batang penis Herland.

“Cleppp… Bleppppp… Bleppppp… Clepppphhhh…” terdengar suara berdecakan saat aku semakin aktif menaik turunkan vaginaku.

Saat vaginaku bergoyang ke kiri, Herland memutar batang penisnya ke arah kanan, sedangkan saat vaginaku bergoyang ke kanan, Herland memutar batang penisnya ke arah sebaliknya. Tangan Herland turut menambahkan kenikmatan dengan mengelusi payudaraku bagian bawah sebelum meremas-remas lembut kedua payudaraku sambil terus menyodokkan batang penisnya ke atas hingga amblas sedalam-dalamnya ke dalam jepitan liang vaginaku.

Herland menggelepar tak berdaya di bawah kendaliku. Tubuh Herland melengkung saat puncak kenikmatan secara dahsyat menyengat kemaluannya.

“Ouuh… Memek Teteh eeenaaak bangeeeeet…! Kontol Herland kayak dipijeeet…” desahnya.

“Uhhh… Uuuh… Penis Herlaaand… Juga nikmaat…!” aku juga memuji keperkasaan penisnya.

Kedua tubuh kami sudah sangat basah oleh keringat. Karpet di ruangan ini pun sudah basah oleh cairan sperma Herland maupun lendir yang meleleh dari vaginaku. Namun entah kekuatan apa yang ada pada diri kami, kami masih saling memompa, merintih, melenguh, dan mengerang. Aku menghujamkan vaginaku berkali-kali dengan irama sangat cepat. Aku merasa semakin melayang. Bagaikan kesetanan aku menjerit-jerit seperti kesurupan. Akhirnya setelah sekitar setengah jam kami bergumul, aku merasa seluruh tubuhku bergetar hebat.

“Teeeh… Herland bentar lagi keluar nih…!” erangnya panjang sambil meringis.

Hal yang sama pula dirasakan olehku, aku tidak sanggup lagi menahan gelombang orgasme yang menerpaku demikian dahsyat.

“Aaaaaah… Teteeeh juga udah mau keluar Land…!! Kita keluar sama-sama Land…!!” aku berteriak kencang karena sudah hampir mencapai orgasme.

“Oooohh… Teeteeehhh… Aaaaaahh…!!” Herland berteriak panjang.

Goyanganku semakin kupercepat dan pada saat yang bersamaan kami berdua saling berciuman sambil berpelukan erat. Kemudian kami berdua mengerang dengan keras sambil menikmati tercapainya orgasme pada saat yang bersamaan.

“Creettt… Creettt… Cretttttt…” aku dapat merasakan sperma Herland menyembur deras di dalam vaginaku.

Sedangkan vaginaku juga mengeluarkan cairan yang sangat banyak, tanda aku sudah mencapai orgasme untuk yang kedua kalinya. Dari selangkanganku meleleh cairan hasil persenggamaan kami.

Aku memeluk erat-erat tubuh Herland sampai dia merasa sesak karena aku memeluknya dengan sangat kencang. Kami seakan sudah tidak peduli bila tetangga sebelah rumahku akan mendengarkan jeritan-jeritan kami. Kemudian Herland mencabut penisnya vaginaku hingga akhirnya kami berdua hanya bisa tergeletak lemas di atas karpet dengan tubuh bugil bermandikan keringat.

“Aaahh… Herland… Kamu hebaaat banget Land…” pujiku sambil mengistirahatkan tubuh yang sudah lemas ini.

“Herland ju… ga Teh… Haaah…. Haaaah… Terima ka… sih untuk kenik… matan ini… Belum pernah Herland ngerasain nikmat kayak gini…” jawab Herland sambil terengah-engah seraya mengecup keningku dengan mesra kemudian membelai-belai lembut rambutku layaknya sepasang kekasih.

“Land, kalo Herland mau kayak tadi lagi tinggal SMS Teteh ya…” kataku manja.

“Pasti dong Teh…!” jawab Herland yakin.

“Tapi hati-hati jangan sampe rahasia kita berdua ketahuan orang lain, terutama Dewi…” pintaku pada Herland.

“Sip deh pokoknya Teh. Herland janji…” jawabnya menyanggupi permintaanku.

Setelah merasa kuat untuk bangun, kami berdua beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri dari sperma, keringat dan liur. Tapi di kamar mandi kami tidak melakukan persetubuhan lagi, melainkan hanya berciuman mesra saja, karena kami takut tiba-tiba Dewi atau keluargaku yang lain akan segera pulang. Siraman air pada tubuhku benar-benar menyegarkan kembali pikiran dan tenagaku setelah hampir seharian penuh ‘bermain’ dengan Herland.

Kami berdua pun membersihkan ruang di sekitar ‘medan laga’ tadi dengan menyemprot pengharum ruangan untuk menutupi aroma bekas persenggamaan tadi. Setelah beres, kami pun sedikit berbincang mengenai kejadian tadi. Aku yang sempat ragu apa benar Herland belum pernah bersetubuh, karena dia sudah terlihat ahli, bertanya lagi kepadanya. Ternyata dari pengakuannya, memang Herland belum pernah melakukan persetubuhan dengan siapapun, termasuk Dewi. Herland mengaku melakukan ini hanya berdasarkan yang dia lihat dari DVD ataupun internet saja.

Di dalam pikiranku, aku juga merasa bersalah sekaligus kasihan kepada Dewi yang belum sempat merasakan nikmatnya penis Herland. Tentu saja kehilangan keperjakaan dengan kakak mantan pacarnya adalah pengalaman yang sangat mengesankan bagi Herland. Dia berharap kami dapat melakukannya lagi kapan-kapan. Aku pun juga ingin menikmati penis Herland lebih sering lagi.

0 komentar:

Posting Komentar

 

BANNER ADS